Poin Penting
- Survei Amar Bank terhadap 1.600 responden menunjukkan 87 persen masyarakat mengalami kenaikan pengeluaran selama Ramadan.
- Kebutuhan rumah tangga (86 persen) menjadi pos pengeluaran terbesar, diikuti kebutuhan Lebaran dan aktivitas sosial.
- Gen Z lebih defensif menggunakan dana darurat, sementara Milenial cenderung menggabungkan dana darurat dan pinjaman untuk menjaga arus kas.
Jakarta – PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) atau Amar Bank melakukan survei media sosial terhadap lebih dari 1.600 responden di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Makassar, dengan rentang usia 20-55 tahun terkait perilaku pengeluaran di periode Ramadan.
Sebanyak 87 persen responden mengaku pengeluaran mereka meningkat selama Ramadan. Di saat yang sama, 16,9 persen dari total responden merasa kondisi keuangannya tetap nyaman sepanjang bulan itu.
Baca juga: Dorong Kredit UMKM, Amar Bank Perkuat Layanan Digital Banking
Direktur Retail Banking Amar Bank, Abraham Lumban Batu, mengatakan bahwa bulan Ramadan seringkali menjadi periode ketika kebutuhan rumah tangga meningkat dalam waktu yang singkat, sementara arus kas belum tentu bergerak dengan ritme yang sama.
“Karena itu, yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya akses dana, tetapi juga pendampingan agar mereka bisa tetap memprioritaskan kebutuhan utama, memahami kapasitas keuangan mereka, dan mengambil keputusan pembiayaan secara bertanggung jawab. Bagi kami, peran bank adalah membantu menjaga kelancaran, bukan menambah beban,” kata Abraham dalam keterangan resmi dikutip, Selasa, 17 Maret 2026.
Kebutuhan Rumah Tangga jadi Pos Pengeluaran Terbesar
Di samping itu, pos pengeluaran terbesar datang dari kebutuhan rumah tangga sebanyak 86,0 persen, disusul kebutuhan baju Lebaran, buka bersama, dan hampers 67,6 persen, lalu tiket mudik 26,4 persen.
Hasil survei tersebut menegaskan bahwa tantangan finansial Ramadan lebih dekat dengan kebutuhan rutin dan semi-rutin yang menumpuk dalam periode singkat.
Perbedaan Pola Keuangan Gen Z dan Milenial
Sementara itu, jika dirinci berdasarkan Gen Z dan Milenial, Gen Z cenderung lebih defensif, hal itu tecermin saat menghadapi pengeluaran tak terduga, 46 persen memilih memakai dana darurat, sementara 38,3 persen menggabungkannya dengan pinjaman.
Dari total 765 responden Gen Z, sekitar 42,0 persen merasa kondisi keuangannya makin ketat di penghujung bulan. Pola ini menunjukkan bahwa bagi Gen Z, menjaga stabilitas dan bertahan sampai fase paling berat terlewati menjadi prioritas utama.
Baca juga: 60 Persen Pengguna Didominasi Gen Z-Milenial, Akulaku Finance Agresif Perluas BNPL
Sebaliknya, Milenial terlihat lebih taktis dalam menyusun bantalan keuangan, di mana 42,0 persen menggabungkan dana darurat dan pinjaman, lebih tinggi dibanding 38,8 persen yang hanya memakai dana darurat.
Lalu dari 461 responden Milenial, sekitar 36,0 persen mengalami cash flow yang tidak menentu. Artinya, Milenial cenderung lebih siap memakai kombinasi strategi agar kebutuhan tetap berjalan tanpa menunggu situasi sepenuhnya aman. (*)
Editor: Yulian Saputra










