Surplus Neraca Perdagangan Jaga Ketahanan Eksternal Ekonomi RI

Surplus Neraca Perdagangan Jaga Ketahanan Eksternal Ekonomi RI

kawasan ekonomi khusus
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia Maret 2022 kembali surplus, yakni US$4,53 miliar. Surplus tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan surplus bulan sebelumnya yang mencapai US$3,83 miliar dan sekaligus melanjutkan tren surplus sejak Mei 2020. Melihat hal ini, Bank Indonesia (BI) optimis neraca perdagangan tetap kuat dalam menjaga perekonomian moneter di tengah kondisi ketidakpastian global.

“Bank Indonesia memandang surplus neraca perdagangan telah berkontribusi positif dalam menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas kebijakan terkait untuk meningkatkan ketahanan eksternal serta mendukung pemulihan ekonomi nasional,” jelas Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi, Erwin Haryono dikutip di Jakarta.

Adapun surplus neraca perdagangan Maret 2022 bersumber dari kenaikan surplus neraca perdagangan nonmigas di tengah peningkatan defisit neraca perdagangan migas. Pada Maret 2022, surplus neraca perdagangan nonmigas mencapai US$6,62 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada bulan sebelumnya sebesar US$5,74 miliar.

Perkembangan positif tersebut didukung oleh meningkatnya ekspor nonmigas dari US$19,48 miliar pada Februari 2022 menjadi US$25,09 miliar pada Maret 2022. Peningkatan ekspor nonmigas terutama bersumber dari ekspor komoditas berbasis sumber daya alam yang membaik, seperti batu bara, besi dan baja, serta lemak dan minyak hewani/nabati.

Jika ditinjau dari negara tujuan, ekspor nonmigas ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang tercatat meningkat seiring dengan permintaan yang tetap kuat di tengah harga global yang meningkat. Adapun impor nonmigas masih kuat pada seluruh komponen, sejalan dengan perbaikan ekonomi domestik yang berlanjut.

Sementara itu, defisit neraca perdagangan migas tercatat meningkat dari US$1,91 miliar pada Februari 2022 menjadi US$2,09 miliar pada Maret 2022, sejalan dengan peningkatan impor migas yang lebih tinggi dari ekspor migas. (*)

 

Editor: Rezkiana Nisaputra

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]