Keuangan

Suku Bunga Naik, Industri Keuangan Selektif Pilih Calon Debitur

Jakarta – Kondisi resesi yang diperkirakan akan terjadi di tahun 2023, disebabkan oleh semakin tingginya angka inflasi dan dalam hal ini Bank Indonesia (BI) sebagai regulator harus melakukan langkah antisipasi, salah satunya dengan menaikan tingkat suku bunga.

Kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang telah mengalami kenaikan menjadi 5,25%, menyebabkan perbankan maupun industri jasa keuangan lainnya kemungkinan turut menaikan beban bunga kepada krediturnya dan berhati-hati dalam memilih calon debiturnya.

Direktur Komersial idScore, Wahyu Trenggono, mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan oleh para industri jasa keuangan untuk menjaga tingkat kredit bermasalah atau non performing-loan (NPL) pada lembaga jasa keuangan.

“Di beberapa lembaga keuangan masih berani di level yang kuning (average risk) masih diberikan kredit tapi karena suku bunga naik dan kemudian beban bunga yang ditetapkan debitur naik biasanya bank akan menaikan standarnya ke level hijau dan tua saja (low risk dan very low risk,” ucap Wahyu di Jakarta, 22 November 2022.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa dalam menghadapi resesi global tersebut bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) utamanya harus terlebih dahulu menguatkan usahanya sebelum melakukan ekspansi, untuk menjaga reputasi perusahaan ataupun kredit scoring yang dimiliki ke depannya.

“Jadi kembali prinsipnya bahwa growth harus tetep ada cuma kita harus pelan-pelan sesuai dengan kemampuan kita dan harus diperhitungkan dengan matang apalagi kalau kita ingin melakukan ekspansi,” imbuhnya.

Senada, Founder Kebab Babarafi, Nilamsari, menyatakan bahwa dalam menghadapi resesi tahun depan yang harus dilakukan adalah tetap berhati-hati untuk melakukan ekspansi, dikarenakan ekspansi memiliki risiko yang tinggi.

“Kalau kita ngerasa kita cukup oke ya kita tetep jalan aja seperti biasa tapi kalau ternyata kita agak was-was mungkin agak fokus ke yang hanya margin dulu atau memanfaatkan potensi yang udah ada,” ujar Nilam dalam kesempatan yang sama.

Bagi, Nilam sendiri Babarafi masih akan tetap percaya diri menghadapi tahun 2023, karena dalam prosesnya perusahaan tersebut telah mengalami resesi dan mampu bertahan melalui keadaan apapun. (*)

Editor: Rezkiana Nisaputra

Khoirifa Argisa Putri

Recent Posts

IHSG Pagi Ini Dibuka Melemah ke Level 8.122

Poin Penting IHSG dibuka flat melemah di level 8.122,01 pada perdagangan Selasa (4/2), dengan nilai… Read More

38 mins ago

Rupiah Hari Ini (4/2) Dibuka Melemah ke Level Rp16.762 per USD

Poin Penting Rupiah melemah tipis pada awal perdagangan Rabu (4/2/2026), dibuka di level Rp16.762 per… Read More

54 mins ago

Update Harga Emas Hari Ini: Antam Melesat, Galeri24-UBS Kompak Turun

Poin Penting Harga emas Galeri24 dan UBS di Pegadaian melanjutkan tren penurunan pada Rabu (4/2/2026),… Read More

1 hour ago

IHSG Berpeluang Menguat, Ini Katalis Penggeraknya

Poin Penting IHSG diprediksi bergerak variatif cenderung menguat dengan area support 7.715–7.920 dan resistance 8.325–8.530,… Read More

2 hours ago

Ini Plus Minus Implementasi Demutualisasi BEI

Poin Penting Rencana demutualisasi BEI yang ditargetkan rampung kuartal I 2026 dinilai terlalu agresif dan… Read More

11 hours ago

DPR Soroti Konten Sensasional Jadi Pintu Masuk Judi Online

Poin Penting DPR menilai konten digital berjudul sensasional menjadi pintu masuk masyarakat ke praktik judi… Read More

12 hours ago