Suku Bunga Naik, Industri Keuangan Selektif Pilih Calon Debitur

Suku Bunga Naik, Industri Keuangan Selektif Pilih Calon Debitur

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Kondisi resesi yang diperkirakan akan terjadi di tahun 2023, disebabkan oleh semakin tingginya angka inflasi dan dalam hal ini Bank Indonesia (BI) sebagai regulator harus melakukan langkah antisipasi, salah satunya dengan menaikan tingkat suku bunga.

Kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang telah mengalami kenaikan menjadi 5,25%, menyebabkan perbankan maupun industri jasa keuangan lainnya kemungkinan turut menaikan beban bunga kepada krediturnya dan berhati-hati dalam memilih calon debiturnya.

Direktur Komersial idScore, Wahyu Trenggono, mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan oleh para industri jasa keuangan untuk menjaga tingkat kredit bermasalah atau non performing-loan (NPL) pada lembaga jasa keuangan.

“Di beberapa lembaga keuangan masih berani di level yang kuning (average risk) masih diberikan kredit tapi karena suku bunga naik dan kemudian beban bunga yang ditetapkan debitur naik biasanya bank akan menaikan standarnya ke level hijau dan tua saja (low risk dan very low risk,” ucap Wahyu di Jakarta, 22 November 2022.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa dalam menghadapi resesi global tersebut bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) utamanya harus terlebih dahulu menguatkan usahanya sebelum melakukan ekspansi, untuk menjaga reputasi perusahaan ataupun kredit scoring yang dimiliki ke depannya.

“Jadi kembali prinsipnya bahwa growth harus tetep ada cuma kita harus pelan-pelan sesuai dengan kemampuan kita dan harus diperhitungkan dengan matang apalagi kalau kita ingin melakukan ekspansi,” imbuhnya.

Senada, Founder Kebab Babarafi, Nilamsari, menyatakan bahwa dalam menghadapi resesi tahun depan yang harus dilakukan adalah tetap berhati-hati untuk melakukan ekspansi, dikarenakan ekspansi memiliki risiko yang tinggi.

“Kalau kita ngerasa kita cukup oke ya kita tetep jalan aja seperti biasa tapi kalau ternyata kita agak was-was mungkin agak fokus ke yang hanya margin dulu atau memanfaatkan potensi yang udah ada,” ujar Nilam dalam kesempatan yang sama.

Bagi, Nilam sendiri Babarafi masih akan tetap percaya diri menghadapi tahun 2023, karena dalam prosesnya perusahaan tersebut telah mengalami resesi dan mampu bertahan melalui keadaan apapun. (*)

Editor: Rezkiana Nisaputra

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]