Poin Penting
- Penyesuaian suku bunga SRBI sejak Februari 2026 membuat instrumen ini semakin menarik bagi investor asing dan mendorong aliran dana masuk ke Indonesia
- Aliran dana ke SRBI tercatat Rp32,5 triliun (Maret) dan Rp29 triliun (April), sehingga total year-to-date mencapai Rp54,3 triliun, sekaligus ikut mendorong inflow ke SBN Rp10,11 triliun
- Peningkatan net inflow asing, termasuk USD1,9 miliar hingga 20 April 2026, memperkuat ketahanan sektor eksternal dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
Jakarta – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyatakan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi instrumen yang telah menarik aliran modal asing masuk ke Indonesia.
“Kita sejak Februari itu secara bertahap terus melakukan upaya penyesuaian pada suku bunga SRBI, sehingga dia menjadi instrumen yang memiliki daya tarik terhadap foreign inflow,” jelas Destry dalam Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu, 22 April 2026.
Hal itu tercermin dari inflow yang masuk melalui SRBI sebesar Rp32,5 triliun pada Maret 2026. Sementara pada April 2026 ini, SRBI juga telah mencatatkan inflow sebesar Rp29 triliun.
Baca juga: BI Ungkap Rencana Terbitkan SRBI Digital, Ini Bocorannya!
“Sehingga year to date untuk SRBI sudah terjadi inflow sebesar Rp54,3 triliun,” ungkapnya.
Destry menjelaskan, dengan peningkatan inflow pada SRBI, maka inflow pada Surat Berharga Negara (SBN) juga terdorong sebesar Rp10,11 triliun.
“Jadi artinya segala upaya yang kita lakukan dengan net inflow dari asing yang memang makin meningkat ini juga akan memperkuat ketahanan di sektor eksternal kita,” pungkasnya.
Baca juga: Penerbitan SRBI Bakal Terus Dilakukan, Meski Nilainya Turun
Tercatat hingga 20 April 2026, aliran modal kembali mencatat net inflow sebesar USD1,9 miliar, terutama ditopang oleh aliran masuk modal asing ke SRBI dan SBN didorong oleh peningkatan imbal hasil di kedua instrumen.
Sebagai informasi, BI mencatat posisi instrumen moneter SRBI pada 21 April 2026 sebesar Rp885,41 triliun, antara lain didukung dengan kepemilikan nonresiden yang mencapai Rp165,98 triliun (18,75 persen dari total outstanding) sehingga turut mendukung upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. (*)
Editor: Galih Pratama








