Poin Penting
- S&P Global menilai konflik Timur Tengah berisiko menekan peringkat kredit Asia Tenggara, dengan Indonesia paling rentan jika perang berkepanjangan
- Tekanan utama berasal dari kenaikan subsidi energi, peningkatan bunga utang akibat inflasi, serta pelebaran defisit transaksi berjalan karena impor minyak mahal
- Meski demikian, dampak dapat diredam oleh kenaikan harga komoditas dan upaya pemerintah menjaga defisit fiskal tetap di bawah 3 persen PDB.
Jakarta – Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings dalam laporan terbarunya menilai peringkat kredit negara-negara di kawasan Asia Tenggara berpotensi tertekan akibat terganggunya pasokan energi sebagai dampak dari konflik di Timur Tengah.
Di kawasan Asia Tenggara, S&P Global memproyeksikan bahwa Indonesia merupakan negara paling rentan, apabila perang terjadi secara berkepanjangan.
S&P Global menyebut faktor yang menjadi tekanan bagi Indonesia adalah kondisi fiskal dan eksternal akibat perang.
Menurut S&P, terdapat tiga faktor potensial yang akan dihadapi Indonesia. Pertama, kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan pembayaran subsidi anggaran, sehingga dapat memperlebar defisit fiskal.
Kedua, pembayaran bunga utang pemerintah juga dapat meningkat jika tekanan inflasi akibat harga energi mendorong kenaikan lebih lanjut pada suku bunga pasar. Ketiga, soal impor produk minyak yang lebih mahal dapat memperlebar defisit transaksi berjalan.
Baca juga: Purbaya Klaim S&P Pertahankan Outlook Rating Indonesia di Triple B
Adapun peringkat kredit Indonesia berada di ‘BBB/Stable/A-2’ dari S&P Global yang mencerminkan sebuah negara memiliki kemampuan untuk membayar utang, namun sensitif terhadap eksternal akibat perang.
S&P Global menyatakan Indonesia berupaya menjaga kinerja fiskal. Meskipun pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi, Indonesia telah memangkas belanja program makan bergizi gratis (MBG) untuk sebagian mengimbangi kenaikan biaya tersebut.
Selain itu, Indonesia juga menegaskan komitmennya untuk menjaga defisit fiskal di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini.
Baca juga: Fitch Rating Pangkas Outlook RI jadi Negatif, Begini Respons Kemenkeu
Pada saat yang sama, harga komoditas yang lebih tinggi juga dapat meningkatkan pendapatan pemerintah. Hal ini membantu membatasi kenaikan defisit fiskal dan mengurangi tekanan kenaikan pada rasio pembayaran bunga anggaran.
“Secara keseluruhan, metrik kredit Indonesia kemungkinan hanya akan melemah dalam skenario dasar kami. Sebagai eksportir komoditas, Indonesia dapat memperoleh beberapa faktor penyeimbang yang mengurangi tekanan terhadap peringkat sovereign, terutama jika terjadi penguatan harga komoditas secara luas,” tulis S&P dalam laporannya. (*)
Editor: Galih Pratama








