Software Engineer Lokal Mesti Ambil Peran dalam Ekonomi Digital RI 2025

Software Engineer Lokal Mesti Ambil Peran dalam Ekonomi Digital RI 2025

Software Engineer Lokal Mesti Ambil Peran dalam Ekonomi Digital RI 2025
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Anggota Komisi X DPR RI, bidang Pendidikan, ekonomi kreatif dan teknologi, Bramantyo Suwondo menyebutkan, software engineer lokal harus mampu mengambil peran dalam pengembangan ekonomi digital Indonesia pada 2025 akan mencapai US$130 miliar.

“Banyak lulusan teknis di Indonesia yang cukup baik namun dengan soft skill yang kurang mumpuni seperti kolaborasi, public speaking, komunikasi dan kendala Bahasa. Belajar softskill seperti halnya public speaking yang paling bagus adalah praktek langsung,” kata Bramantyo dalam webinar teknologi “Menjadi Software Engineer, Tuan Rumah di Negeri Sendiri” yang diselenggarakan oleh Dikita Intergasi dan Rumah Coding Cerdas, di Jakarta baru-baru ini.

Dia mengatakan, para software engineer atau programmer itu harus aktif dan dinamis dalam menyiapkan diri dengan kebutuhan industri yang juga berkembang pesat.

Di Jerman, menurut dia, kebutuhan industri dengan apa yang diajarkan di dunia pendidikan selalu sejalan, sehingga lulusan dari dunia Pendidikan, selalu dapat tersalurkan sesuai dengan kebutuhan industrinya.

Kondisi ini, lanjut Bramantyo, berbeda dengan lulusan sekolah teknologi computer Indonesia yang cukup banyak, tapi belum diimbangi dengan program mix & match. “Khawatirnya nanti akan terjadi oversupply. Kita banyak lulusan TIK tapi secara kualitas masih banyak yang harus di tingkatkan,” katanya.

Ciptakan Ekosistem

Melihat kondisi inilah, menurut Rachmat Fajrin, inisiator lingkungan software engineer Rumah Coding Cerdas, Indonesia membutuhkan lingkungan tempat bernaung pada programmer local untuk saling mendorong untuk maju.

Melalui gerakan Rumah Coding Cerdas pihaknya membangun ekosistem untuk menjadikan software engineer menjadi lebih mandiri, kian berdaya, dan mampu bersaing dengan programer-programer asing.

“Kami berharap banyak talenta yang paham bahwa dalam dunia software engineering ada aspek – aspek lain seperti aspek komunikasi, aspek leadership, aspek manajemen waktu dan prioritas, aspek networking atau relasi dan beberapa aspek aspek lainnya yang harus ditingkatkan kompetensinya. Jadi tidak selalu soal teknis,” kata dia.

Hal senada disampaikan oleh Irfan Maulana, Principal Web Platform Tokopedia. Programer local harus bisa berkomunitas dengan baik untuk perkembangan diri.

“Mereka akan susah untuk berkembang sendirian. Komunitas bukan tempatnya orang – orang jago ngumpul. Tapi tempat orang – orang yang mau belajar berkumpul. Walaupun dari SMK akuntansi, untungnya di perkuliahan bisa fokus di IT dan bisa mendapat banyak project2 selama berkuliah, dapat ilmunya ya dari berkomunitas itu sendiri,” papar dia.

Dirinya sadar, saat lulus kuliah dan belum seperti sekarang ini, ilmu yang dipelajari di bangku Pendidikan, masih minim. “Saya sadar kebutuhan ilmu di industri hanya di-cover sekitar 10% di jenjang SMK atau perkuliahan.  Maka dari itu mencari opportunity itu harus di komunitas di luar sekolah atau kampus,” jelas dia.

Masih menurut Irfan, mindset sebagai software engineer perlu di arahkan ke arah dampak sosial. Untuk membawa dampak yang massif, sehingga melalui komunitas, saling berbagi, menjadi sarana untuk peningkatan kompetensi para pekerja di dunia TI itu sendiri. (*)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]