Poin Penting:
- Simulasi ITAPS IPB University menunjukkan kurs Rp20.000 per dolar AS dapat menyebabkan kontraksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,2 persen.
- Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan inflasi hingga 3 persen akibat kenaikan harga impor dan energi.
- Konflik Timur Tengah dapat memperbesar risiko ekonomi global melalui lonjakan harga minyak dan gangguan perdagangan internasional.
Jakarta – Ancaman konflik geopolitik di Timur Tengah dinilai tidak hanya memicu lonjakan harga energi global, tetapi juga berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan inflasi, dan perlambatan konsumsi masyarakat.
Direktur International Trade Analysis and Policy Studies (ITAPS) IPB University, Sahara, mengungkapkan bahwa simulasi yang dilakukan timnya menunjukkan pelemahan rupiah hingga Rp20.000 per dolar AS berpotensi memangkas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 0,2 persen, disertai kenaikan inflasi dan penurunan konsumsi rumah tangga.
Peringatan tersebut disampaikan Sahara dalam Seminar Nasional Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Jakarta bertema “Indonesia Incorporated untuk Indonesia Emas 2045”, Rabu (10/6/2026).
Baca juga: BI Rate Naik 5,50 Persen Jadi Langkah Amankan Nilai Tukar Rupiah yang Tertekan
Menurut Sahara, meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik Iran dengan AS-Israel telah memberikan tekanan terhadap harga energi, rantai pasok internasional, investasi, hingga prospek pertumbuhan ekonomi dunia.
Dampak lanjutan dari kondisi tersebut, kata dia, dapat merembet ke Indonesia melalui jalur perdagangan, harga energi, inflasi impor, hingga nilai tukar yang semakin rentan terhadap gejolak eksternal.
Pelemahan Rupiah Berisiko Menekan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Sahara menjelaskan, tim peneliti IPB melakukan simulasi menggunakan model Computable General Equilibrium (CGE) untuk mengukur dampak kombinasi depresiasi nilai tukar, penurunan investasi, dan penyesuaian harga BBM non-subsidi terhadap perekonomian nasional.
Dalam simulasi tersebut, terdapat empat skenario tekanan terhadap nilai tukar. Pada skenario optimistis, kurs berada di kisaran Rp17.200 per dolar AS.
Sementara pada skenario moderat mencapai Rp17.700 per dolar AS. Adapun skenario pesimistis menembus level Rp18.000 per dolar AS, sedangkan skenario ekstrem memperkirakan Rp20.000 per dolar AS.
“Kalau skenario yang sudah pesimistis itu sudah di atas 18.000. Lalu kemudian yang pesimis ekstrem itu depresiasi nilai tukar rupiah itu mencapai 20.000,” ujar Sahara.
Baca juga: Purbaya Pede Rupiah Menguat pada Semester II 2026
Hasil simulasi menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan mengalami penurunan pada seluruh skenario. Penurunan paling ringan mencapai 0,06 persen, sementara pada skenario ekstrem dampaknya jauh lebih besar.
“Kalau dolar itu mencapai Rp20.000 per US dolar, pertumbuhan ekonominya itu akan mengalami kontraksi sebesar 0,2 persen,” tegasnya.
Temuan tersebut menjadi alarm bagi pemerintah karena target pertumbuhan ekonomi tinggi yang dibutuhkan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 membutuhkan stabilitas makroekonomi yang kuat, termasuk menjaga nilai tukar dan inflasi.
Inflasi Indonesia Berpotensi Naik Akibat Imported Inflation
Menurut Sahara, depresiasi kurs memang berpotensi memberikan keuntungan bagi sektor berorientasi ekspor. Namun manfaat tersebut tidak cukup untuk mengimbangi tekanan yang muncul dari kenaikan harga impor dan energi.
“Imported inflation yang disebabkan oleh kenaikan harga impor dan kenaikan harga energi ternyata lebih besar dampaknya,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa banyak sektor industri Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor. Berdasarkan analisis terhadap 185 sektor ekonomi, sejumlah industri seperti elektronik, komunikasi, mesin, plastik, kosmetik, kertas, hingga perhiasan memiliki intensitas impor di atas 20 persen.
Baca juga: IHSG dan Rupiah Tiba-tiba Kompak “Meledak”, Apa Sentimen Pendorongnya?
Kondisi tersebut membuat pelemahan rupiah langsung meningkatkan biaya produksi dan harga barang di dalam negeri. Dalam simulasi IPB, inflasi diperkirakan meningkat dari 2,6 persen pada skenario ringan menjadi sekitar 3 persen pada skenario ekstrem.
Selain itu, konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional juga diproyeksikan mengalami perlambatan akibat menurunnya daya beli masyarakat.
Konflik Timur Tengah Tambah Tekanan terhadap Risiko Ekonomi Global
Sahara menilai konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah dapat memperbesar risiko ekonomi global dan mempersempit ruang fiskal Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah kenaikan harga minyak dunia yang diperkirakan bertahan di sekitar USD80 per barel.
Angka tersebut lebih tinggi dibanding asumsi harga minyak mentah dalam APBN yang dipatok sebesar USD70 per barel. Selisih harga itu berpotensi meningkatkan beban fiskal pemerintah sekaligus menekan stabilitas harga di dalam negeri.
Selain itu, ketegangan geopolitik juga mengancam jalur perdagangan strategis melalui Selat Hormuz. Berdasarkan estimasi ITAPS, jika jalur tersebut terganggu atau ditutup, Indonesia berpotensi kehilangan nilai ekspor sekitar USD1,4 juta atau setara 0,59 persen dari total ekspor ke sejumlah negara Timur Tengah pada 2025.
Baca juga: Ekonom: Kenaikan BI Rate ke 5,50 Persen Perkuat Daya Tarik Aset Rupiah
Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia memang masih mencatat surplus. Namun, Sahara mengingatkan bahwa surplus tersebut terus menyempit karena pertumbuhan ekspor melambat sementara impor menunjukkan tren peningkatan.
Kekhawatiran serupa juga pernah disoroti berbagai kalangan ekonomi dan pemerintah. Dalam sejumlah laporan yang dikutip Antara, gejolak geopolitik Timur Tengah dinilai berpotensi meningkatkan volatilitas pasar keuangan, menekan nilai tukar negara berkembang, serta memicu kenaikan harga energi dan pangan global yang pada akhirnya berdampak terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Karena itu, Sahara menegaskan bahwa penguatan ketahanan ekonomi nasional menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
“Temuan ini mengindikasikan urgensi penguatan resiliensi ekonomi domestik agar pertumbuhan, daya beli masyarakat, dan stabilitas harga tetap terjaga ketika terjadi tekanan terhadap perekonomian,” ujarnya.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan tidak hanya bergantung pada kondisi eksternal, tetapi juga pada kemampuan memperkuat produktivitas, hilirisasi, inovasi, dan daya tahan ekonomi domestik ketika menghadapi gejolak nilai tukar rupiah. (*)
Editor: Yulian Saputra


