Oleh Mahendra Siregar, Pemerhati Geopolitik
SAAT ini perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran memasuki minggu keempat. Sekalipun Presiden Donald Trump di awal penyerangan ke Iran mengatakan bahwa perang akan berlangsung 4-5 minggu, kenyataannya sampai dengan saat ini belum ada tanda-tanda bahwa perang akan segera berakhir. Bahkan Trump dan para menterinya sendiri sudah tidak lagi menggunakan kerangka waktu tersebut.
Memang, di tengah ketidakpastian itu, Trump di media sosialnya mengatakan sedang berbenah (winding down) untuk segera menyelesaikan perang ini. Namun, di lain sisi, AS justru sedang memobilisasi tambahan 2.500 marinirnya ke wilayah perang. Malah, pemerintah AS baru saja mengajukan tambahan anggaran USD200 miliar kepada Kongres untuk mendukung perang tersebut.
Sehari sebelumnya, Trump menyatakan tidak merestui serangan Israel atas fasilitas gas alam Iran di South Pars karena dapat menyebabkan serangan balik Iran ke fasilitas-fasilitas migas negara-negara Teluk Arab (GCC). Dan, memang serangan balik Iran itu terjadi.
Baca juga: Pengaruh Perang Iran terhadap Politik Pemilihan Legislatif Sela AS
Apa yang Sebenarnya Tengah Terjadi?
Untuk dapat menjelaskan bagaimana cara berpikir dan keputusan-keputusan Trump, diperlukan analisis menyeluruh yang mengombinasikan perkembangan perang taktikaldengan evaluasi perkembangan politik dalam negeri AS, serta analisis risiko terhadap ekonomi dan keuangan AS dan global.
Ditinjau dari politik domestik AS, Presiden Trump tampak jelas tidak ingin berlama-lama melanjutkan perang di Iran menjelang Pemilu Sela Legislatif, 3 November 2026. Popularitas politiknya di dalam negeri menjadi taruhan sangat besar bagi Partai Republik dan efektivitas presidensinya. Survei terakhir menggambarkan Partai Republik terancam kehilangan mayoritas di DPR, dan akan tergerus atau malah juga mungkin kehilangan mayoritas di Senat.
Risiko kehilangan mayoritas di dua lembaga legislatif itu jelas: Gedung Putih akan kehilangan efektivitasnya pada paruh kedua Presiden Trump. Bahkan, Trump sendiri bisa menjadi lame-duck president menghadapi berbagai proses investigasi hingga impeachment oleh Kongres di bawah Partai Demokrat. Jadi, sangat jelas, perang yang berlangsung lama adalah redline bagi Trump.
Oleh karena itu, Trump menyampaikan pesan dengan jelas di media sosialnya bahwa ia sedang berbenah mengakhiri perang karena lima objek utama serangan AS ke Iran sudah tercapai, yaitu (1) memusnahkan kemampuan missiles Iran; (2) menghancurkan industri pertahanan Iran; (3) melumpuhkan angkatan laut dan udara Iran; (4) mencegah Iran untuk tidak pernah memiliki kemampuan senjata nuklir; dan (5) melindungi sekutu-sekutu AS di kawasan Timur Tengah.
Memang banyak analis yang setuju dengan klaim Trump yang mengatakan telah mencapai sebagian besar dari tiga objektif pertamanya di atas. Namun, klaimnya untuk mencegah Iran memiliki kemampuan senjata nuklir maupun melindungi negara-negara sekutunya, sebagian besar analis berpandangan bahwa Trump masih jauh dari objek itu.
Dalam konteks inilah kita dapat memahami kenapa Trump mengirimkan pasukan dan peralatan militer tambahan ke kawasan perang, sekaligus meminta dukungan Kongres untuk tambahan anggaran perang.
Pasukan marinir tambahan dan anggaran/bujet perang tambahan diperlukan untuk berjaga-jaga apabila Trump memutuskan untuk menerjunkan pasukan ke wilayah Iran guna mengejar tujuan keempat: mencari dan memusnahkan fasilitas, seluruh unsur serta proses pengayaan uranium Iran memproduksi senjata nuklir.
Pertimbangan itu tentu saja harus menghitung risiko korban besar tentara AS yang dapat terjadi dengan deployment pasukan itu. Namun, Trump tampaknya akan siap mengambil risiko itu ketimbang harus mengorbankan Pemilu Sela Legislatif, November mendatang.
Sedangkan, untuk mencapai objek kelima, AS dan Israel akan habis-habisan mengeskalasi gempurannya ke Iran pada minggu-minggu ke depan ini dengan tujuan melumpuhkan kemampuan Iran untuk dapat melanjutkan serangannya ke negara-negara GCC.
Rezim Iran Bertahan dan Upaya Membuka Kembali Hormuz Gagal
Terlepas apakah AS dapat mencapai lima objek di atas dan mengklaim memenangkan perang ini, Iran sebaliknya juga dapat mengklaim menang dalam perang ini karena rezim pemerintah Teokratis Syiah dapat bertahan. Selain itu, Iran dapat mengklaim bahwa AS dan Israel tidak mampu memaksa Iran membuka Selat Hormuz.
Perubahan pernyataan Trump yang menyatakan bahwa penggantian rezim bukan lagi sebagai objek perang menunjukkan bahwa Trump sudah pasrah terhadap berlanjutnya rezim di Iran. Begitu pula dengan postingan Trump di media sosialnya yang memberikan konfirmasi kegagalan AS di Hormuz. Trump mengatakan bahwa pembukaan kembali selat itu diserahkan kepada negara-negara lain yang alur pasokan migasnya melalui jalur pelayaran itu.
AS dengan swasembada energi migasnya dikatakannya tidak tergantung pada selat itu sehingga tidak memiliki kepentingan yang besar untuk itu. Pesan itu tampaknya merupakan dalih untuk menutupi ketidakmampuan AS dan Israel memaksa Iran melepaskan Selat Hormuz, sekaligus balasan kepada NATO dan negara-negara lain yang minggu lalu tidak bersedia mendukung AS mengirimkan pasukannya membebaskan selat itu dari tangan Iran.
Apakah Gencatan Senjata dan Perundingan Dapat Terjadi?
Sekalipun situasi tersebut dapat membuka skenario untuk pengakhiran perang, namun Iran dapat dipastikan belum akan mau menerima gencatan senjata dan kembali berunding apabila tidak mendapatkan kepastian bahwa AS dan Israel tidak akan menyerang kembali di masa depan.
Kepastian itu hanya bisa diterima Iran apabila negara-negara Arab sekutu AS menutup pangkalan dan fasilitas militer AS di sana. Selain itu, Iran akan menuntut ganti-rugi atas seluruh kerusakan dan kehancuran yang terjadi karena perang ini.
Perundingan kedua belah pihak (AS-Israel dengan Iran) yang pasti akan sangat sulit dilakukan, karena berangkat dari saling-mencurigai yang sangat dalam serta posisi awal yang sangat ekstrem berbeda. Iran paham benar bahwa makin lama perang berlangsung, makin berat dan berisiko posisi politik Presiden Trump di dalam negerinya.
Hal ini akan mendorong Iran untuk buying time dalam perang ini. Sebaliknya, AS dan Israel akan habis-habisan menggempur Iran untuk memaksa Iran secepatnya menerima gencatan senjata.
Dampak Ekonomi dan Keuangan Global
Perang yang berkepanjangan dan belum jelas kapan berakhirnya ini jelas berdampak buruk terhadap ekonomi dan keuangan AS maupun global.
Pertama, melonjaknya harga migas ke tingkat tertinggi sepanjang sejarah. Penutupan Selat Hormuz dan rusaknya sejumlah fasilitas dan pemrosesan migas di Timur Tengah telah menyebabkan harga minyak produksi negara-negara Teluk Persia/Arab (GCC) melonjak tinggi. Sebagai perbandingan, harga minyak Brent di pasar futures atau finansial saat ini di sekitar USD115. Namun, harga pasar fisik (spot market) yang ditunjukkan oleh Oman/Dubai crude spot sudah melampaui USD150.
Baca juga: Konflik Timur Tengah dan Risiko Harga Minyak Global, Ini Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia
Perbedaan harga futures dengan spot memang kerap terjadi. Namun, perbedaan yang sangat mencolok saat ini menunjukkan bahwa pelaku pasar minyak finansial masih belum price-in penuh kronisnya masalah penutupan Selat Hormuz, karena masih berharap tidak akan terlalu lama. Jika penutupan Selat Hormuz masih berlangsung beberapa minggu atau bulan ke depan, maka perbedaan antara pasar spot dan futures akan makin tipis, bersamaan dengan harga futures yang akan melampaui USD200.
Satu hal lain yang jarang disadari terkait fasilitas migas yang rusak ini adalah sekalipun Selat Hormuz sekiranya dibuka kembali segera, maka perlu waktu sampai enam bulan untuk logistik dapat kembali berjalan normal. Dengan kata lain, gangguan yang terjadi saat ini sudah hampir pasti akan memengaruhi pasar dan harga migas untuk seluruh tahun 2026.
Kedua, guncangan pasar keuangan global. Perang Iran sampai dengan saat ini sangat memengaruhi kinerja Wall Streetdan pasar keuangan dunia. Indeks Dow Jones berada di kisaran 49.000 pada awal Maret, dan per akhir minggu ketiga Maret turun ke posisi 45.500. Berarti sudah turun hampir 8 persen.
Memang masih jauh dari 20 persen untuk disebut sebagai bearish market. Namun, sentimen yang memburuk dapat berlangsung panjang jika perang belum menunjukkan akhirnya, apalagi jika kedua belah pihak bersikap zero-sum-game – maka sentimen dan ketidakpastian akan terus berlanjut.
Sekalipun situasi dapat terus memburuk, namun selama gencatan senjata dapat dicapai dalam beberapa bulan, maka pasar keuangan dapat rebound cepat, tanpa harus mengganggu sektor riil lebih jauh lagi selain transmisinya melalui naiknya biaya transportasi, logistik, dan energi. Namun, jika perang berlangsung sampai kuartal terakhir tahun ini, maka risiko sektor pasar keuangan juga akan berimbas lebih luas pada sektor riil.
Minyak selain menjadi sumber energi, juga merupakan bahan baku produk plastik, petrokimia, dan berbagai produk turunan lainnya yang diperlukan oleh sektor manufaktur dan consumers goods. Begitu pula halnya dengan gas alam, yang merupakan bahan baku untuk amonia dan urea yang sangat diperlukan untuk sektor pertanian. Dampak ikutan jangka menengah ini akan meningkatkan risiko terhadap tingkat inflasi dan pelemahan ekonomi yang lebih berat bagi dunia. (*)










