Siklus 10 Tahunan Krisis, BRI: Bank Saat Ini Jauh Lebih Kuat

Siklus 10 Tahunan Krisis, BRI: Bank Saat Ini Jauh Lebih Kuat

BRI: Dampak Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Bisa Diantisipasi Perbankan
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Indonesia memiliki trauma yang mendalam soal krisis. Dikhawatirkan siklus krisis 10 tahunan akan terjadi, mengingat Indonesia pernah krisis ditahun 1978, 1988, 1998, dan 2008. Namun demikian, pemerintah menjamin bahwa Indonesia masih jauh dari krisis.

Transmisi krisis bisa saja bersumber dari berbagai sektor. Pada tahun 2008 silam, krisis dipicu oleh subprime mortgage dan menjalar pada ketatnya likuiditas. Pasar modal mengalami kejatuhan dan bank-bank pun ikut tertekan likuiditasnya. Sehingga terjadi flight to quality yang menyebabkan bank-bank mengalami kesulitan.

Kondisi perbankan dianggap sebagai jantung ekonomi bagi sebuah negara. Sektor perbankan rentan dengan berbagai risiko, terutama risiko sistemik, yakni kegagalan bank yang berdampak terhadap ekonomi dalam jangka panjang. Akan tetapi, saat ini kondisi perbankan nasional terlihat masih sangat sehat dan jauh lebih kuat dibanding dengan 1998 silam.

Direktur Strategi Bisnis dan Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk (BRI), Haru Koesmahargyo mengatakan, bahwa kondisi perbankan saat ini jauh dari dampak krisis. Hal ini tercermin dari kondisi rasio kecukupan modal perbankan (Capital Adequacy Ratio/CAR) pada kisaran 23 persen, lebih kuat dibandingkan pada 1998.

Selain itu, kata dia, stabilitas sistem keuangan di Indonesia masih tetap terjaga. Terjaganya stabilitas sistem keuangan ini juga tercermin dari rasio likuiditas (AL/DPK) yang berada pada kisaran 23 persen. Jika dibandingkan dengan kondisi saat krisis di 1998, rasio likuiditas perbankan tercatat di bawah level 20 persen, di mana kala itu perbankan mengalami kesulitan.

“Jadi kalo ada misanya krisis seperti di tahun 1998, maka perbankan saat ini jauh lebih kuat, jauh lebih tahan terhadap krisis. Saat ini rasio likuiditas 23 persenan. Waktu itu saat 1998 hanya sekitara 11-12 persen saja,” ujarnya saat seminar yan diselenggarakan Infobank, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis, 25 Januari 2018.

Oleh sebab itu, dirinya meyakinkan kepada para investor untuk tidak ragu memilih investasi atau menaruh dananya di perbankan. Ia memastikan bahwa kondisi perbankan secara rata-rata industri masih dalam tahap aman. Dengan menaruh dana di perbankan, maka bank dapat menyalurkan kreditnya sehingga akan ikut berdampak pada perekonomian nasional.

“Kekuatan perbankan saat ini sangat besar baik dari sisi profit maupun likuiditasnya itu tingi dan bagus. Kalo boleh saya sampaikan kepada investor, barangkali perbankan bisa menjadi pilihan investasi ke depan,” ucapnya.

Ledakan krisis terbesar terjadi pada 1998 yang ditandai dengan jatuhnya 100 bank. Pertumbuhan ekonomi minus dengan menyandera APBN hingga sekarang. Nilai krisis saat itu setidaknya mencapai Rp650 triliun, yang di dalamnya ada Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Krisis 1998 bermula dari jatuhnya rupiah akibat utang swasta dan pemerintah membengkak. Hal itu memicu kredit bermasalah bank-bank sehingga menyebabkan pemerintah melakukan bailout bank-bank.

Pemerintah mendorong pembiayaan dengan membuka bank-bank dengan izin yang lebih mudah. Lahirnya Pakto 88 adalah respons dari krisis 1987. Dan, ternyata pendirian bank-bank telah mendorong krisis 1998 karena sebagian besar bank yang lahir dari konglomerat digunakan untuk membiayai diri sendiri. (*)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]