Atas tantangan-tantangan yang ada tersebut, Sigit Pramono memberi sejumlah rekomendasi. Satu, OJK harus mampu menerbitkan kebijakan yang memberikan insentif kepada pelaku jasa keuangan sehingga secara sukarela mereka tergerak membiayai sektor-sektor yang telah ditetapkan bersama dengan pemerintah sebagai sektor priorotas unggulan seperti UMKM, infrastruktur, perikanan dan kelautan, pariwisata dan ekonomi kreatif.
Dua, OJK harus membantu dan mendorong konsolidasi bank BUMN untuk mempercepat lahirnya bank besar dan bank khusus sebagai wujud partisipasi OJK mendukung pembangunan untuk mensejahterakan bangsa. “Konsolidasi perbankan di Indonesia lebih mudah jika dimulai dari bank BUMN, bukan dari bank swasta,” ujar Sigit.
Baca juga: Mengupas Independensi Calon Ketua OJK Sigit Pramono
Tiga, pengembangan pasar modal diantaranya diarahkan kepada internalisasi praktik TPA dan GCG di perusahaan publik. Empat, mendorong pengembangan jasa pembiayaan seperti sewa-guna usaha, anjak pitung, dan modal ventura untuk membiayai kegiatan produktif.
Sigit Pramono yang lahir di Batang pada 14 November 1958 dikenal sebagai bankir senior yang memiliki pengalaman panjang sebagai praktisi di perbankan dan lembaga keuangan non bank seperti pasar modal dan multifinance. Sigit yang membangun karir di Bank Exim Impor (Exim) ini juga pernah menjadi Komisaris di Bank Merincorp Securities dan Direktur Exim Leasing. Ketika Bank Exim melebur menjadi Bank Mandiri pada 1998, Sigit menjadi Direktur Muda. Karena pengalamannya terlibat dalam manajemen krisis ketika mega merger empat bank pelat merah menjadi Bank Mandiri, Sigit kemudian dipercaya pemerintah untuk memimpin Bank Internasional Indonesia (BII) pada 2002 dan kemudian ditugaskan memimpin BNI yang dihantam krisis akibat kasus letter of credit (L/C) bodong pada 2003.
Sigit sukses membereskan BNI hingga selesai kontraknya pada 2008. Karena jam terbang dan integritasnya yang teruji, pemegang saham Bank Central Asia (BCA) kemudian memercayainya untuk menjadi komisaris independen. Sigit kemudian dikenal sebagai bankir spesialis yang berpengalaman menyehatkan bank termasuk melakukan transformasi organisasi. Pengalaman memimpin organisasi yang dimiliki Sigit adalah Chairman ASEAN Banker Association selama dua tahun, Ketua Umum Perbanas dua periode (2006-2016), Ketua Indonesia Institute for Corporate Directorship dari 2013 sampai sekarang, Wakil Ketua Umum Ikatan Bankir Indonesia (2007-2011), serta Wakil Ketua Umum Kadin (2015 sampai sekarang). (*) KM
Page: 1 2
Poin Penting Bank Mandiri terbitkan global bond USD750 juta dengan kupon 5,25% dan tenor 5… Read More
Poin Penting OJK rampungkan empat reformasi pasar modal untuk tingkatkan transparansi. OJK akan temui MSCI… Read More
Poin Penting Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan menghasilkan komitmen bisnis Rp575… Read More
Poin Penting AAUI menyebut PSAK 117 masih jadi tantangan bagi industri asuransi umum. Kendala utama… Read More
Poin Penting Otoritas Jasa Keuangan menjatuhkan denda Rp96,33 miliar kepada 233 pelaku pasar modal pada… Read More
Poin Penting Nobu Bank catat laba Rp481,3 miliar di 2025, tumbuh 46,3% yoy. Kredit naik… Read More