Poin Penting
- Pasar menanti rilis pertumbuhan ekonomi full year 2025 yang diperkirakan di kisaran 5,1–5,2 persen berpotensi memperkuat IHSG dan menjadikan level 9.000 sebagai support baru
- Reaksi market pekan ini dipengaruhi estafet kepemimpinan baru BEI dan OJK yang diharapkan membawa sinergi, transparansi, serta daya saing pasar modal yang lebih baik
- Ancaman penurunan bobot saham RI dan status pasar oleh MSCI memicu koreksi IHSG 6,94 persen ke level 8.329.
Jakarta – Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan mengimbau para trader dan investor untuk memantau sentimen data pertumbuhan ekonomi full year 2025 yang akan dirilis pada pekan ini.
Ia menjelaskan, pada awal Februari biasanya merupakan waktu rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia secara tahunan. Pasar berekspektasi ekomoni nasional tumbuh solid di angka 5,1-5,2 persen.
“Jika angka resminya di atas ekspektasi, ini akan menjadi bensin tambahan bagi IHSG untuk tidak hanya sekadar mampir di level 9.000, tapi menjadikannya sebagai lantai baru atau support kuat,” ucap David dalam risetnya di Jakarta, 2 Februari 2026.
Baca juga: Purbaya Yakin IHSG Senin Pekan Depan Dibuka Tanpa Gejolak
Selain itu, lanjut David, selama sepekan ke depan market akan banyak dipengaruhi oleh reaksi market menyongsong estafet kepemimpinan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
David meyakini pimpinan baru BEI dan OJK menandai langkah strategis yang diharapkan membawa perubahan positif melalui rekam jejak profesional yang solid.
“Dengan pengalaman yang komprehensif di sektor jasa keuangan tersebut, kepemimpinan baru ini diharapkan mampu menciptakan sinergi yang kuat untuk mendorong pertumbuhan, transparansi, dan daya saing pasar modal Indonesia agar semakin progresif di masa depan,” imbuhnya.
Efek MSCI
Sebelumnya, pasar modal Indonesia pekan lalu sempa ambrol. Hal itu dipicu oleh sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang segera mengumumkan interim freeze terhadap saham-saham Indonesia.
Jika tidak ada perbaikan transparansi yang signifikan hingga Mei 2026, MSCI mengancam akan mengurangi bobot (weighting) seluruh saham Indonesia dan menurunkan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.
Baca juga: Pesan Khusus Prabowo ke Investor Pasar Modal usai IHSG Babak Belur
Ancaman MSCI ini benar-benar mendatangkan gejolak di dalam negeri, yakni pengunduran diri dan penunjukkan jajaran pimpinan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam rentang waktu yang relatif singkat.
Adapun dengan keadaan tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir ditutup di level 8.329 atau melemah kurang lebih 6,94 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
Selain itu, di masa pelemahan sepekan terakhir tersebut investor asing melakukan penjualan (outflow) yang fantastis mencapai Rp15,7 triliun di pasar reguler. (*)
Editor: Galih Pratama










