Poin Penting
- Serangan siber di sektor perbankan melonjak tajam, dengan sekitar 80 persen serangan kini memanfaatkan teknologi AI
- Ancaman ini berdampak besar pada industri perbankan, terutama terhadap kepercayaan nasabah, sementara regulator dan industri dinilai belum sepenuhnya siap menghadapi pola serangan baru
- Diperlukan kolaborasi lintas sektor, standar keamanan yang jelas, serta investasi berkelanjutan di keamanan siber untuk mengidentifikasi dan menangkal ancaman secara menyeluruh.
Jakarta — Serangan siber di industri perbankan menunjukkan lonjakan tajam seiring pesatnya perkembangan teknologi generative artificial intelligence (AI). Fenomena ini tak hanya terjadi di Tanah Air, tetapi juga secara global.
Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, membeberkan sebagian besar serangan siber telah memanfaatkan teknologi AI yang kian canggih dan sulit dideteksi.
“Sekarang 80 persen dari serangan siber sudah menggunakan AI. Dan itu yang tercatat. Bahkan, teknologi deep fake dulu hanya sebatas teori, tapi sekarang sudah jadi ancaman nyata,” ujar Niki, di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026.
Ia menilai, perkembangan teknologi generative AI yang kian cepat menjadikan regulator dan industri belum sepenuhnya siap mengantisipasi pola serangan anyar tersebut.
Baca juga: Bos Amar Bank: Lawan Serangan Siber Seperti “Tom and Jerry”
Di mana, serangan tak melulu memalsukan identitas wajah tapi hingga melibatkan manipulasi perangkat, jaringan, hingga pola perilaku digital masyarakat.
Lonjakan serangan siber ini, kata Niki, turut berdampak langsung terhadap industri perbankan. Bukan hanya potensi kerugian materi, tetapi juga terhadap kepercayaan nasabah (trust).
“Bagi perbankan yang paling mahal bukan soal kerugian uang, tetapi kepercayaan nasabah. Kalau itu hilang, butuh waktu sangat lama untuk memulihkannya,” tegasnya.
Meski begitu, dirinya mengapresiasi peran regulator di Indonesia seperti Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia yang telah membentuk Indonesia Anti-Scam Center untuk memperkuat penanganan penipuan digital.
Namun demikian, Niki menegaskan bahwa penanganan serangan siber tak sekedar mengandalkan regulasi. Sebab, dibutuhkan integrasi dan kolaborasi lintas sektor agar identifikasi ancaman bisa dilakukan secara menyeluruh, mulai dari nomor telepon, perangkat, hingga situs yang digunakan pelaku.
Baca juga: Strategi Maybank Indonesia Tangkal Serangan Siber yang Makin Masif
“Jika tak terhubung, kita hanya melihat potongan-potongan saja. Makan akan sulit mengidentifikasi jaringan pelaku secara utuh,” bebernya.
Niki pun menekankan pentingnya investasi berkelanjutan di bidang keamanan siber oleh pihak perbankan. Sebab, penguatan keamanan teknologi bersifat urgent lantaran menyangkut keberlangsungan bisnis
Selain itu, diperlukan kejelasan standar teknis keamanan oleh regulator supaya industri mempunyai acuan yang konkret, termasuk dalam proses verifikasi identitas digital dan autentikasi nasabah.
Serangan Siber Perbankan
Serangan siber kini menjadi ancaman nyata seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi. Dalam periode Januari 2020 hingga Mei 2025, Badan Sandi dan Siber Negara (BSSN) mencatat 6.728.381.246 anomali trafik internet.
Sebanyak 83,34 persen dari anomali tersebut berupa malware atau perangkat lunak berbahaya. Hingga Mei 2025, jumlah anomali yang terdeteksi telah menyentuh 2,07 miliar, tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sementara itu, sektor keuangan menempati posisi ke-empat bidikan para hacker.
Teranyar, aksi serangan siber diduga menimpa PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jambi atau Bank Jambi. Di mana, sejumlah nasabah mengaku kehilangan saldo. (*)
Editor: Galih Pratama


