Lebih lanjut dia menambahkan, kebijakan ini diyakini akan mengurangi instrumen Bank Sentral dalam mengendalikan gejolak nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS). Sementara itu, dirinya memperkirakan kebijakan BI ini paling cepat akan terlihat mulai 2018.
“Namun pada saat ini tampaknya prioritas pendanaan proyek pemerintah lebih urgent daripada operasi menyerap rupiah,” ucapnya. (Baca juga: Tiga Hal yang Diyakini BI Dorong Ekonomi RI)
Pada kesempatan terpisah, Direktur Jenderal Pembiayaan, Pengelolaan dan Risiko Kemenkeu, Robert Pakpahan menyambut baik arah kebijakan BI yang ingin mengganti SBI ke SBN sebagai instrumen moneternya. “Karena SBN yang dipegang BI masih di bawah jumlah ideal dalam melakukan operasi moneter,” jelasnya.
Dia menilai, nantinya Bank Sentral akan lebih mudah melakukan stabilisasi dengan SBN ketimbang menggunakan SBI. “Jadi kalau ada outflow BI tidak segan-segan beli SBN karena mereka masih kurang dan butuh. Dan kalau ada instability mereka bisa lakukan intervensi di pasar SBN karena menjadi instrumen moneter,” paparnya.
Poin Penting Presiden Prabowo menetapkan delapan hari cuti bersama ASN 2026, dengan cuti terbanyak pada… Read More
Poin Penting IHSG ditutup di 8.031,87, naik 1,22 persen dari 7.935,26, dengan 433 saham menguat,… Read More
Poin Penting BCA optimistis penyaluran KPR naik 6–7 persen pada 2026, didukung strategi layanan digital,… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mengucapkan selamat kepada Thomas Djiwandono atas pelantikannya sebagai Deputi… Read More
Poin Penting Kemensos akan memfokuskan penyaluran PKH dan bantuan sembako hanya kepada masyarakat desil 1… Read More
Poin Penting AM Best kembali menetapkan Tugu Insurance meraih FSR A- (Excellent) dan Long-Term ICR… Read More