Poin Penting
- DANA mendorong diversifikasi aset untuk melindungi nilai kekayaan di tengah ketidakpastian global 2026 dan tekanan inflasi
- Ketidakpastian global melonjak (WUI tertinggi), sementara inflasi Indonesia mencapai 3,48 persen (data Badan Pusat Statistik), mendorong masyarakat lebih berhati-hati dan meningkatkan tabungan
- Strategi ideal: seimbangkan kas dengan investasi seperti emas dan SBN; pemula disarankan fokus pada instrumen stabil, diversifikasi, dan mulai bertahap sesuai profil risiko.
Jakarta — Platform dompet digital, DANA mendorong masyarakat untuk mulai mendiversifikasi aset di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global sepanjang 2026.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga nilai kekayaan di tengah tekanan inflasi dan volatilitas ekonomi.
Mengacu pada World Uncertainty Index (WUI) yang disusun oleh Economist Intelligence Unit, tingkat ketidakpastian global melonjak tajam pada Februari 2026 hingga mencapai 106.862, tertinggi sepanjang sejarah. Indikator ini mencerminkan meningkatnya persepsi risiko ekonomi global yang tidak hanya bersumber dari pasar keuangan, tetapi juga dinamika ekonomi secara luas.
Di dalam negeri, tekanan juga mulai terasa. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan pada Maret 2026 mencapai sekitar 3,48 persen.
Kenaikan terutama berasal dari komponen harga yang diatur pemerintah dan harga bergejolak, yang masing-masing tumbuh 6,08 persen dan 4,24 persen secara tahunan.
Baca juga: Dana Asing Kabur Rp964,14 Miliar, Saham BBCA, BMRI, dan BBNI Paling Banyak Diobral
Kondisi tersebut berdampak pada perilaku masyarakat. Survei konsumen Bank Indonesia mencatat porsi tabungan rumah tangga meningkat menjadi 17,7 persen pada Februari 2026, dari sebelumnya 16,5 persen. Tren ini mencerminkan sikap kehati-hatian masyarakat melalui peningkatan dana cadangan di tengah ketidakpastian.
Head of Investment and Insurance DANA, Ivan Kusuma, menilai strategi menyimpan dana dalam bentuk tunai perlu diimbangi dengan penempatan pada instrumen investasi agar tidak tergerus inflasi.
“Menumpuk dana dalam bentuk kas dalam jangka panjang berisiko menurunkan nilai riil akibat inflasi. Sebaiknya kas digunakan untuk kebutuhan likuiditas, sementara sebagian dialokasikan ke instrumen yang lebih mampu menjaga nilai,” ujar Ivan dikutip Kamis (16/4).
Ia menyebut, sejumlah instrumen seperti emas dan Surat Berharga Negara (SBN) dapat menjadi alternatif bagi masyarakat. SBN dinilai menawarkan imbal hasil yang relatif stabil melalui kupon, dengan tingkat risiko yang terjaga karena dijamin pemerintah.
Baca juga: Dana Riset Naik Jadi Rp12 T, DPR Apresiasi Langkah Prabowo Temui 1.200 Rektor
Menurut Ivan, investor pemula sebaiknya memprioritaskan instrumen yang stabil dan membangun portofolio secara bertahap, alih-alih mengejar imbal hasil tinggi dalam waktu singkat.
“Diversifikasi aset dan penyesuaian dengan profil risiko menjadi kunci utama dalam berinvestasi, terutama bagi pemula,” katanya.
Ia juga menyoroti semakin terbukanya akses investasi bagi masyarakat luas. Saat ini, investasi di instrumen SBN ritel dapat dimulai dengan dana relatif terjangkau, bahkan mulai dari Rp1 juta.
Melalui aplikasi DANA, pengguna dapat mengakses pembelian SBN ritel seperti Obligasi Ritel Indonesia (ORI), Sukuk Ritel (SR), Saving Bond Ritel (SBR), hingga Sukuk Tabungan (ST) melalui mitra distribusi resmi pemerintah.
Ivan menambahkan, pemanfaatan teknologi diharapkan dapat mendorong inklusi investasi, khususnya bagi generasi muda.
“Dengan dukungan teknologi, kami ingin membuat investasi lebih mudah diakses. Harapannya, masyarakat tidak hanya bertahan di tengah ketidakpastian, tetapi juga mampu membangun stabilitas keuangan jangka panjang,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama







