Poin Penting
- RUPST PT Bank Mega Tbk menyetujui seluruh sembilan mata acara Tahun Buku 2025, termasuk penggunaan laba bersih sebesar Rp3,4 triliun
- Perseroan menetapkan dividen tunai Rp2 triliun, dana cadangan Rp35,1 juta, dan Rp1,3 triliun sebagai saldo laba, serta membagikan saham bonus Rp5,87 triliun
- Rapat juga merombak direksi dengan mengangkat Mariam dan Jemy Kristian Soegiarto (menunggu persetujuan OJK), serta memberhentikan Yuni Lastianto dan mengakhiri masa jabatan Indivara Erni
Jakarta — PT Bank Mega Tbk menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (31/3). Rapat yang dipimpin Komisaris Independen Hizbullah tersebut menyetujui seluruh sembilan mata acara RUPST Tahun Buku 2025.
Salah satu keputusan utama adalah penggunaan laba bersih tahun buku 2025 sebesar Rp3,4 triliun. Perseroan menetapkan Rp2 triliun dibagikan sebagai dividen tunai kepada pemegang saham, Rp35,1 juta disisihkan sebagai dana cadangan sesuai ketentuan Pasal 70 UUPT, dan sisanya sebesar Rp1,3 triliun dibukukan sebagai saldo laba.
Selain dividen, RUPST juga menyetujui pembagian saham bonus yang berasal dari kapitalisasi tambahan modal disetor (agio saham) senilai Rp5,87 triliun.
Perseroan akan menerbitkan sebanyak 11,74 miliar saham bonus dengan rasio 1:1, dibagikan secara proporsional kepada seluruh pemegang saham.
“Pembagian saham bonus dilakukan secara proporsional sesuai dengan kepemilikan masing-masing pemegang saham,” ujar Hizbullah dalam keterangan resminya dikutip 31 Maret 2026.
Baca juga: Bank Mega Gandeng IKPI Perkuat Pemahaman Coretax ke Nasabah
Dari sisi tata kelola, RUPST turut merombak susunan direksi. Perseroan mengangkat Mariam dan Jemy Kristian Soegiarto sebagai direktur, efektif setelah memperoleh persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui uji kemampuan dan kepatutan (fit and proper test). Rapat juga memberhentikan dengan hormat Yuni Lastianto sebagai direktur.
Selain itu, masa jabatan Indivara Erni sebagai Wakil Direktur Utama akan berakhir seiring penugasan ke PT Mega Corpora, efektif setelah pengangkatan Jemy Kristian Soegiarto disetujui OJK atau paling lambat 30 September 2026.
Dengan demikian, susunan direksi Bank Mega menjadi:
- Direktur Utama: Kostaman Thayib
- Wakil Direktur Utama: Indivara Erni,
- Direktur: Madi Darmadi Lazuardi
- Direktur: Martin Mulwanto
- Direktur: YB Hariantono
- Diektur: Heriwan Gazali,
- Direktur: Mariam
- Direktur: Jemy Kristian Soegiarto.
Kinerja Bank Mega 2025
Dari sisi kinerja, Bank Mega mencatat laba bersih 2025 sebesar Rp3,36 triliun, tumbuh 28 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang lonjakan fee based income sebesar 54 persen menjadi Rp2,79 triliun.
“Capaian ini membawa Bank Mega masuk jajaran 10 besar bank dari sisi laba,” kata Hizbullah.
Total aset perseroan tercatat Rp140,83 triliun, naik 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penyaluran kredit tumbuh 4 persen menjadi Rp67,23 triliun, dengan kualitas tetap terjaga, tercermin dari rasio non-performing loan (NPL) yang membaik ke level 1,65 persen.
Baca juga: Bank Mega Kantongi Laba Rp3,36 Triliun di 2025, Tumbuh 28 Persen
Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 14 persen menjadi Rp104,13 triliun. Komposisi DPK masih didominasi deposito, namun dana murah (CASA) juga mencatat kenaikan menjadi Rp28,14 triliun.
Permodalan tetap kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) di level 30,49 persen, sementara loan to deposit ratio (LDR) berada di kisaran 70 persen.
Sejumlah rasio profitabilitas dan efisiensi juga terjaga, di antaranya ROA 3,10 persen, ROE 15,54 persen, NIM 4,18 persen, dan BOPO 69,12 persen.
Untuk 2026, perseroan memasang target kinerja yang moderat. Bank Mega membidik laba bersih Rp3,7 triliun, kredit Rp74 triliun, DPK Rp111 triliun, dan total aset Rp149 triliun.
Guna mencapai target tersebut, perseroan menyiapkan sejumlah strategi, antara lain memperkuat likuiditas melalui peningkatan dana murah, mendorong kredit wholesale baik bilateral maupun sindikasi, mengakselerasi bisnis kartu kredit, mengoptimalkan peran jaringan cabang, serta meningkatkan kinerja treasury dan menjaga pertumbuhan laba berkelanjutan. (*) Steven Widjaja










