Moneter dan Fiskal

Rupiah Terus Tertekan, Ini yang Bakal Dilakukan BI

Poin Penting

  • Rupiah tertekan faktor global dan domestik, dengan depresiasi mendekati Rp17.000 per dolar AS; BI menegaskan komitmen kuat menjaga stabilitas nilai tukar
  • BI menempuh strategi smart intervention, melalui optimalisasi intervensi di pasar DNDF, spot, dan SBN guna menekan volatilitas rupiah
  • Rupiah dinilai sudah “too depreciate”, setelah turun 2 persen sepanjang Januari 2026 dan menjadi mata uang terburuk di Asia emerging, sehingga dinilai mulai mencari level keseimbangan baru.

Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah masih terus berlanjut. Bahkan, makin mendekat atau berada di level Rp17.000 per dolar AS. Seperti apa langkah Bank Indonesia (BI) menghadapi posisi rupiah yang terdepresiasi tersebut?

Destry Damanyanti, Deputi Gubernur Senior BI, menjelaskan pelemahan nilai tukar rupiah sejatinya dipengaruhi oleh sejumlah faktor, baik dari global maupun dalam negeri.

“Kalau untuk (faktor) domestik, kami akan cepat langsung bereaksi untuk merespons itu. Dan dalam hal ini Bank Indonesia punya komitmen kuat untuk menjaga stabilitas rupiah,” jelas Destry di acara Infobank Starting Year Forum, pada sesi Executive Lecture: Driving Financial Resilience – Anticipating Economic and Financial Outlook 2026, Kamis, 22 Januari 2026.

Baca juga: Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Level Rp16.929 per Dolar AS, Ini Pemicunya

Untuk meredam tekanan terhadap rupiah, lanjut Destry, BI akan menempuh jalan smart intervention. BI akan mengoptimalkan strategi intervensi di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), pasar spot, dan pasar surat berharga negara (SBN). Ini dilakukan guna meminimalkan risiko peningkatan volatilitas nilai tukar rupiah.

“Jadi kalau rupiahnya lagi gonjang-ganjing, kalau nggak butuh spot sekarang, butuh nanti buat misalnya pembayaran utang, beli aja dulu di DNDF atau NDF,” lanjut Destry.

Selain itu, kata Destry, langkah lainnya melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bagian dari strategi menjaga likuiditas dan stabilitas pasar, serta optimalisasi terhadap instrumen keuangan lainnya.

“Kalau yang kami lihat, tren pergerakan rupiah sekarang ini sudah bergerak (ke arah) yang too depreciate gitu. Jadi, it’s time actually untuk rupiah untuk bisa mencari level barunya,” tukasnya.

Baca juga: Rupiah Mendekati Rp17.000 per Dolar AS, OJK Ungkap Risiko ke Perbankan

Untuk diketahui, sepanjang Januari ini, rupiah telah anjlok 2 persen terhadap dolar AS. Penurunan ini menempatkan rupiah dengan kinerja terburuk di antara mata uang pasar berkembang Asia. Pada 2025, rupiah juga merosot hingga 3,5 persen.

Sementara per 22 Januari 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau berada di kisaran Rp16.889,70. (*) Mohammad Adrianto Sukarso

Galih Pratama

Recent Posts

BCA Tetap Tambah Kantor Cabang saat Bank Lain Pangkas Jaringan, Ini Alasannya

Poin Penting BCA terus menambah kantor cabang meski tren industri perbankan nasional justru memangkas jaringan… Read More

17 mins ago

BEI Kembali Lanjutkan Pertemuan dengan MSCI, Ini Hasilnya

Poin Penting BEI mengajukan poin tambahan ke MSCI, yakni penerbitan shareholders concentration list untuk saham… Read More

1 hour ago

Benarkah Iklim Investasi di Indonesia Memburuk? Ini Pandangan LLV

Poin Penting IHSG tak sepenuhnya mencerminkan iklim investasi RI, karena banyak investor asing masuk lewat… Read More

1 hour ago

Hasil Evaluasi MSCI Februari 2026: INDF Turun, ACES dan CLEO Keluar

Poin Penting MSCI merilis rebalancing Februari 2026 tanpa penambahan saham Indonesia, dengan tanggal efektif 28… Read More

3 hours ago

Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas Gugat KPK Lewat Praperadilan Kasus Kuota Haji

Poin Penting Mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas mengajukan praperadilan ke PN Jakarta Selatan terkait… Read More

4 hours ago

Menkop Ferry Ajak Polri Sukseskan Kopdes Merah Putih di Seluruh Indonesia

Poin Penting Kemenkop mengajak Polri bersinergi mendukung program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Kopdes Merah Putih… Read More

4 hours ago