Poin Penting
- Rupiah melemah 0,32 persen menjadi Rp17.750 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin.
- Sikap hawkish The Fed dipicu kekhawatiran inflasi yang masih jauh di atas target 2 persen.
- Eskalasi konflik AS-Iran turut memperkuat tekanan terhadap rupiah di pasar valuta asing.
Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada awal perdagangan Senin setelah pidato hawkish Kepala The Fed memicu kekhawatiran pasar. Rupiah bergerak melemah 57 poin atau 0,32 persen menjadi Rp17.750 per dolar AS.
Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp17.693 per dolar AS. Tekanan datang ketika pasar mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat setelah pernyataan pejabat bank sentral.
Analis Doo Financial Lukman Leong menilai pelemahan tersebut berkaitan dengan sikap hawkish Kepala Federal Reserve. Pernyataan tersebut mengindikasikan ruang pengetatan kebijakan masih terbuka jika inflasi belum terkendali.
Baca juga: Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.748 per Dolar AS, Ini Sentimennya
Rupiah Tertekan Sikap Hawkish The Fed
Dalam Simposium Ekonomi Jackson Hole, Warsh mengevaluasi kondisi ekonomi dan kebijakan moneter Amerika Serikat. Ia menyoroti inflasi yang masih menjadi persoalan meski pasar tenaga kerja tetap stabil.
Menurut Warsh, kondisi output ekonomi juga masih solid dalam periode tersebut. Namun, perkembangan inflasi dinilai belum memberikan keyakinan cukup bagi The Fed.
Lukman mengatakan Warsh menegaskan perlunya langkah lanjutan jika kondisi mengharuskannya. “Warsh mengatakan bahwa The Fed ‘harus bertindak lebih lanjut’ jika diperlukan agar inflasi bisa bergerak turun menuju tingkat 2 persen,” ucap Lukman kepada Antara di Jakarta, Senin.
Pernyataan tersebut memperlihatkan perhatian The Fed masih tertuju pada tekanan harga. Pasar pun perlu memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter Amerika tetap ketat.
Inflasi AS Masih Jauh dari Target
Warsh mencatat indikator inflasi acuan The Fed mencapai 3,7 persen dalam 12 bulan terakhir. Angka tersebut masih berada jauh di atas target bank sentral sebesar 2 persen.
Tekanan inflasi bahkan terlihat lebih tinggi dalam periode enam bulan terakhir. Angkanya mencapai 4,1 persen sehingga memperkuat alasan The Fed mempertahankan kewaspadaan.
Warsh menilai pembuat kebijakan harus memiliki keyakinan terhadap arah inflasi inti. Pergerakannya harus menuju target 2 persen dengan kecepatan yang dinilai memadai.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pasar karena arah suku bunga The Fed berpengaruh terhadap aset negara berkembang. Perubahan ekspektasi kebijakan Amerika dapat memengaruhi pergerakan mata uang global.
Konflik Asia Barat Tambah Tekanan Pasar
Selain kebijakan The Fed, sentimen geopolitik turut membayangi pergerakan pasar keuangan. Eskalasi terjadi setelah Amerika Serikat kembali menyerang sasaran militer Iran.
Pasukan AS menghantam dua peluncur rudal Iran di Pulau Larak pada Minggu (30/8/2026). Serangan itu menjadi aksi pertama terhadap wilayah Iran sejak akhir Juli.
Operasi tersebut berlangsung setelah jeda sekitar sebulan dalam keterlibatan militer langsung. Sasaran serangan disebut berkaitan dengan sistem yang disiapkan untuk meluncurkan roket bermuatan ranjau laut ke Selat Hormuz.
Ketegangan kemudian berkembang setelah laporan serangan terhadap posisi militer AS di Yordania. Sputnik mengungkapkan bahwa pasukan bersenjata Iran dilaporkan melancarkan serangan tersebut.
Dua sentimen itu membuat pasar menghadapi tekanan dari sisi moneter dan geopolitik. Berdasarkan kondisi tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut selama ekspektasi kebijakan The Fed tetap ketat. Perkembangan konflik Asia Barat juga menjadi faktor penting yang perlu dicermati pasar. (*)
Editor: Galih Pratama


