Poin Penting
- Rupiah melemah hingga Rp17.303 per dolar AS (23/4/2026) atau turun 0,71 persen, dipicu meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional
- BI menyebut pelemahan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan depresiasi year-to-date sebesar 3,54 persen, meski tekanan pasar global terus berlanjut
- BI menegaskan akan memperkuat intervensi di pasar valas dan SBN serta menjaga daya tarik aset domestik, didukung cadangan devisa kuat USD148,2 miliar.
Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ambruk. Rupiah sempat menyentuh Rp17.303 per dolar AS pada pukul 11.05 WIB, Kamis (23/4/2026) atau melemah 0,71 persen.
Menanggapi hal tersebut, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, tekanan terhadap rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional.
Meski demikian, Destry menyebut pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year-to-date sebesar 3,54 persen.
Baca juga: Rupiah Sentuh Rekor Terendah dalam Sejarah, Tembus Rp17.300 per Dolar AS
Destry menegaskan, BI akan terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market.
“BI terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market guna menjaga daya tarik aset domestik di tengah berlanjutnya dampak konflik Timur Tengah,” kata Destry dalam keterangannya, Kamis, 23 April 2026.
Baca juga: Rupiah Dibuka Melemah, Tembus Rp17.245 per Dolar AS
Lebih lanjut, langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder. Di samping itu, cadangan devisa juga tetap kuat sebesar USD148,2 miliar pada akhir Maret 2026.
“BI senantiasa hadir di pasar dan akan terus mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” tegasnya. (*)
Editor: Galih Pratama








