Poin Penting
- Rupiah menguat 0,81 persen pada pembukaan perdagangan.
- Kenaikan BI Rate menjadi 5,50 persen menjadi sentimen positif bagi rupiah.
- Gejolak geopolitik dan kenaikan harga minyak dunia masih membayangi pergerakan mata uang.
Jakarta – Nilai tukar rupiah menguat pada awal perdagangan Rabu (10/6/2026). Rupiah dibuka pada level Rp17.912 per dolar Amerika Serikat (AS), atau menguat 0,81 persen dibandingkan penutupan perdagangan Jumat pekan lalu di Rp18.058 per dolar AS.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, nilai tukar rupiah diperkirakan berpotensi menguat terhadap dolar AS. Sentimen positif ini menyusul keputusan Bank Indonesia (BI) menaikan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,50 persen.
“Rupiah diperkirakan masih berpotensi menguat terhadap dolar AS menyusul langkah BI menaikkan suku bunga serta menjadwalkan rapat mingguan kedepannya memicu harapan BI masih akan agresif menaikkan suku bunga kedepannya,” kata Lukman, Rabu, 10 Juni 2026.
Baca juga: IHSG dan Rupiah Tiba-tiba Kompak “Meledak”, Apa Sentimen Pendorongnya?
Selain itu, kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax dinilai dapat memberikan dampak positif terhadap nilai tukar rupiah.
Meski demikian, Lukman mengingatkan bahwa eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah serta kenaikan harga minyak mentah dunia dapat membatasi ruang penguatan rupiah.
“Langkah pemerintah menaikkan harga Pertamax juga positif bagi rupiah. Namun eskalasi di Timteng baru-baru ini dan kenaikan harga minyak mentah dunia mungkin akan membatasi penguatan,” ungkapnya.
Baca juga: ESDM Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik meski Rupiah Melonjak
Dengan berbagai sentimen tersebut, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.100 per dolar AS.
“Rupiah akan berada di range Rp17.900 hingga Rp18.100 per dolar AS hari ini,” ujar Lukman. (*)
Editor: Yulian Saputra


