Poin Penting
- Nilai tukar rupiah terus melemah hingga menyentuh kisaran Rp17.500 per dolar AS, level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
- Perbanas menilai Bank Indonesia sudah bekerja keras menjaga stabilitas rupiah, tetapi kemampuan intervensi BI memiliki batas.
- Perbanas meminta pemerintah melakukan penyesuaian kebijakan fiskal agar kepercayaan pasar dan minat investor terhadap SBN tetap terjaga.
Jakarta – Mata uang rupiah terus mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Terbaru, kurs rupiah telah menyentuh kisaran Rp17.500 per dolar AS, yang menjadi level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Melihat kondisi tersebut, Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menilai Bank Indonesia (BI) sejauh ini telah bekerja keras menjaga stabilitas nilai rupiah.
Namun demikian, Ketua Bidang dan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas, Aviliani, mengatakan kemampuan BI dalam melakukan intervensi tetap memiliki batas.
“Kita lihat sekarang BI yang kerja keras kan untuk menjaga nilai tukar rupiah itu. Ya memang harus dipikirkan ke depan semampu mana sih BI itu melakukan intervensi,” kata Aviliani di sela acara CxO Forum Banking Update 2026, Rabu, 13 Mei 2026.
Baca juga: Ekonom Sebut Kondisi Rupiah saat Ini Tak Bisa Disamakan dengan Krisis 1998
Menurut Aviliani, BI saat ini memikul berbagai tugas sekaligus, mulai dari menjaga stabilitas moneter hingga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia mencontohkan peran BI dalam membeli obligasi pemerintah untuk menjaga likuiditas dan mendukung pembiayaan program pemerintah.
Selain itu, BI juga terus menerbitkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menjaga stabilitas rupiah dari tekanan dolar AS.
Meski begitu, Aviliani menilai upaya menjaga stabilitas ekonomi tidak seharusnya hanya bertumpu pada BI semata.
“Jadi sekarang ini kan jadi seolah-olah semuanya ada di BI kan. Padahal kan, orang melihatnya fiskalnya kan. Jadi menurut saya sih ya di fiskal ini perlulah sebaiknya ada perubahan,” terangnya.
Baca juga: BI Yakin Rupiah Bakal Balik Menguat, Ini Pendorongnya
Perubahan Fiskal Dinilai Mendesak
Aviliani mengingatkan, kondisi fiskal pemerintah saat ini dinilai cukup terbatas. Jika tidak ada perubahan kebijakan, hal tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi kepercayaan pasar.
Ia menilai kondisi itu berpotensi membuat investor enggan membeli Surat Berharga Negara (SBN) yang digunakan untuk membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Kalau fiskalnya nggak ada perubahan, ya kekhawatiran orang itu akan sangat tinggi. Dan nanti orang nggak ada yang beli SBN,” tukasnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


