Rupiah Hampir Menyentuh Rp17.000 per Dolar AS, Begini Respons BI

Rupiah Hampir Menyentuh Rp17.000 per Dolar AS, Begini Respons BI

Poin Penting

  • Rupiah melemah mendekati Rp17.000 per dolar AS akibat tekanan global, termasuk tensi geopolitik dan ketidakpastian kebijakan moneter The Fed.
  • BI menegaskan stabilitas rupiah tetap terjaga melalui intervensi pasar valas, NDF, DNDF, serta pembelian SBN di pasar sekunder.
  • Aliran modal asing dan cadangan devisa yang kuat menjadi penopang, dengan inflow Rp11,11 triliun dan cadangan devisa USD156,5 miliar.

Jakarta – Bank Indonesia (BI) merespons pelemahan rupiah yang hampir menyentuh level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada Rabu (14/1/2026) pukul 09.56 WIB, rupiah tercatat di posisi Rp16.871 per dolar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank BI, Erwin G. Hutapea menegaskan BI tetap konsisten menjaga stabilitas nilai tukar guna mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Erwin, pergerakan mata uang global pada awal 2026, dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia.

“Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun,” kata Erwin dalam keterangannya, Rabu, 14 Januari 2026.

Baca juga: Rupiah Mendekati Rp17.000 per Dolar AS, BI Diperkirakan Intervensi

Erwin menjelaskan, kondisi tersebut mendorong rupiah melemah dan ditutup di level 16.860 per dolar AS pada 13 Januari 2026 atau terdepresiasi1,04 persen secara year-to-date (ytd).

Namun, pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang regional lain yang juga terdampak sentimen global, se[erti won Korea yang melemah 2,46 persen dan peso Filipina 1,04 persen.

Intervensi BI dan Aliran Modal Asing Jadi Penopang

Erwin menambahkan, stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi BI melalui intervensi NDF di pasar off-shore Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder.

Selain itu, aliran masuk modal asing yang berlanjut, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham, turut menopang stabilitas rupiah. Secara neto, arus modal asing mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026.

“Sejalan dengan persepsi investor global terhadap Indonesia yang tetap positif, tecermin dari premi risiko CDS Indonesia tenor 5 tahun yang berada pada level rendah, sekitar 72 bps,” tandas Erwin.

Baca juga: BI Ungkap Rencana Terbitkan SRBI Digital, Ini Bocorannya!

Kondisi Cadangan Devisa

Erwin juga menyebutkan, ketahanan eksternal di Indonesia tetap solid, tecermin dari cadangan devisa akhir Desember 2025 sebesar USD156,5 miliar atau setara 6,4 bulan impor, yang dinilai memadai sebagai bantalan menghadapi tekanan global.

“Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat,” imbuhnya.

Ke depan, BI akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-market guna memperkuat transmisi kebijakan moneter, menjaga likuiditas, mengendalikan inflasi, dan menopang pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. (*)

Editor: Yulian Saputra

Related Posts

News Update

Netizen +62