Poin Penting
- Rupiah menguat 0,24 persen ke Rp17.126 per dolar AS pada pembukaan perdagangan 21 April 2026, dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.168
- Ketegangan AS–Iran kembali meningkat usai penyitaan kapal Iran di Selat Hormuz, memicu gejolak pasar energi dengan harga minyak Brent naik ke USD95 per barel
- Bank Mandiri memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp17.143–Rp17.231 per dolar AS, seiring indeks dolar AS stabil di level 98 dan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed.
Jakarta – Nilai tukar rupiah menguat pada awal perdagangan hari ini, Selasa (21/4/2026). Rupiah dibuka pada level Rp17.126 per dolar Amerika Serikat (AS), atau menguat 0,24 persen dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di Rp17.168 per dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, ketegangan yang kembali memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menimbulkan keraguan terhadap keberlanjutan gencatan senjata, yang dijadwalkan segera berakhir.
“Eskalasi terbaru dipicu oleh aksi militer AS yang menyita kapal kargo berbendera Iran di dekat Selat Hormuz, yang dipandang Teheran sebagai pelanggaran langsung terhadap kesepakatan gencatan senjata,” kata Andry, Selasa, 21 April 2026.
Baca juga: BI Tegaskan Beli Tunai Dolar AS Tak Dibatasi, Ini Aturan Barunya
Pasar energi tetap bergejolak, dengan minyak Brent naik ke USD95 per barel dan kontrak berjangka bensin AS berada di USD3,10 per barel, didorong oleh meningkatnya ketegangan AS-Iran yang memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi di Selat Hormuz.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) bergerak di sekitar level 98, seiring pasar terus memperhitungkan meredanya risiko inflasi jangka pendek serta meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (the Fed).
Baca juga: Nasib Rupiah: Kepercayaan Global Menguat, Stabilitas Terjaga
Dengan kondisi tersebut, Andry memproyeksikan rupiah akan bergerak dikisaran Rp17.143 hingga Rp17.231 per dolar AS hari ini.
“Pandangan kami rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.143 hingga Rp17.231 per dolar AS,” imbuh Andry. (*)
Editor: Galih Pratama








