Poin Penting
- Rupiah melemah tipis ke Rp16.981 per dolar AS pada pembukaan perdagangan, turun 0,01 persen dari penutupan sebelumnya.
- Sentimen pasar dipengaruhi konflik Timur Tengah dan penundaan serangan AS, serta risiko gangguan ekspor minyak yang berdampak pada ekonomi global.
- Pergerakan rupiah diproyeksikan terbatas di kisaran Rp16.925-Rp16.980 per dolar AS, dengan fokus pasar pada data ekonomi AS dan harga minyak.
Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah pada awal perdagangan Senin (30/3). Rupiah dibuka di level Rp16.981 per dolar Amerika Serikat (AS), turun tipis 0,01persen dibanding penutupan Jumat pekan lalu di Rp16.980 per dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan pasar masih mencermati sinyal deeskalasi di Timur Tengah. Hal ini terjadi setelah AS menunda serangannya hingga melewati akhir pekan, sementara gangguan ekspor dari Teluk Persia berpotensi menekan pertumbuhan global.
“Data ekonomi di AS, yang akan mengalami pekan perdagangan lebih singkat karena Paskah, akan diominasi oleh laporan ketenagakerjaan. Selain itu, survei Manufaktur ISM juga akan memberikan gambaran mengenai dampak kenaikan biaya energi terhadap produsen barang,” kata Andry, Senin, 30 Maret 2026.
Baca juga: Rupiah Hari Ini Dibuka Melemah Jadi Rp 16.924 per Dolar AS
Di samping itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau stabil di kisaran level 100 dan berpeluang mencatat kenaikan mingguan sekitar 0,3 persen.
Penguatan tersebut didukung kekhawatiran berlanjut terkait konflik dengan Iran, kenaikan harga minyak, serta dampaknya terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi global.
“Harga minyak diperdagangkan mendekati level tertinggi tahun 2022, dengan pasar bersiap menghadapi kemungkinan konflik berlanjut hingga April seiring serangan yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah,” imbuhnya.
Baca juga: Rupiah Dibuka Menguat di Level Rp16.886 per Dolar AS
Andry memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.925 hingga Rp16.980 per dolar AS hari ini.
“Pandangan kami rupiah hari ini akan bergerak di sekitar Rp16.925 dan Rp16.980 per dolar AS,” ujar Andry. (*)
Editor: Yulian Saputra










