Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah pada awal perdagangan hari ini, Senin (6/4/2026). Rupiah dibuka pada level Rp16.997 per dolar Amerika Serikat (AS), atau melemah 0,10 persen dibandingkan penutupan Kamis pekan lalu di Rp16.980 per dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, saham AS berada di bawah tekanan jual yang berat karena konflik AS dan Iran mendorong harga energi naik tajam, memicu spekulasi bahwa Federal Reserve (the Fed) mungkin menunda pemotongan suku bunga dan berpotensi menaikkan biaya pinjaman tahun ini jika inflasi terus berlanjut.
“Investor sekarang beralih ke risalah terbaru Federal Open Market Committee (FOMC) untuk sinyal lebih lanjut tentang jalur kebijakan bank sentral,” kata Andry, Senin, 6 April 2026.
Baca juga: BI Tegaskan Beli Tunai Dolar AS Tak Dibatasi, Ini Aturan Barunya
Sementara, indeks dolar AS (DXY) sedikit di atas 100 setelah data pekerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa the Fed akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.
Andry menjelaskan, jumlah pekerjaan di sektor nonpertanian meningkat dengan laju terkuat sejak akhir 2024, sementara tingkat pengangguran secara tak terduga turun menjadi 4,3 persen, sebagian mencerminkan penurunan partisipasi angkatan kerja.
Baca juga: Jaga Rupiah, BI Tambah Jurus Baru Gunakan SVBI dan SUVBI untuk Repo Valas
Dengan kondisi tersebut, Andry memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran level Rp16.966 dan Rp17.050 per dolar AS hari ini.
“Pandangan kami rupiah hari ini akan bergerak di sekitar Rp16.966 dan Rp17.050 per dolar AS,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama










