Poin Penting
- Rupiah dibuka melemah 0,06 persen ke level Rp17.679 per dolar AS pada perdagangan Selasa (19/5/2026).
- Rupiah berpotensi menguat setelah Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran sehingga kekhawatiran pasar mereda.
- Penguatan rupiah diperkirakan terbatas karena investor masih wait and see menjelang hasil RDG BI dan potensi kenaikan suku bunga acuan.
Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah pada awal perdagangan, Selasa (19/5/2026). Rupiah dibuka di level Rp17.679 per dolar Amerika Serikat (AS), atau melemah 0,06 persen dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di Rp17.668 per dolar AS.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, rupiah berpotensi mnguat terhadap dolar AS seiring meredanya kekhawatiran pasar setelah Presiden Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah meredanya kekhawatiran pasar setelah Trump mengatakan akan menunda serangan ke Iran,” kata Lukman, Selasa 19 Mei 2026.
Baca juga: Bos BI Optimistis Rupiah Kembali Menguat Mulai Juli 2026
Meski demikian, penguatan rupiah diperkirakan terbatas akibat sentimen domestik yang masih lemah. Selain itu, investor juga cenderung wait and see menjelang hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang akan diumumkan besok.
Pasar memperkirakan bank sentral kembali menaikkan suku bunga acuan.
“Walau demikian penguatan mungkin terbatas mengingat sentimen domestik yang masih lemah serta antisipasi investor pada RDG BI yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga,” ungkapnya.
Baca juga: Bos BI Tak Mau Ulang Krisis 1998, Stabilitas Rupiah Dijaga Tanpa Kuras Likuiditas
Lukman memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
“Rupiah akan berada di range Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS hari ini,” imbuh Lukman. (*)
Editor: Yulian Saputra


