Risiko Reputasi dalam Manajemen Risiko: Pembelajaran dari Invasi Rusia dan Naifnya NATO 

Risiko Reputasi dalam Manajemen Risiko: Pembelajaran dari Invasi Rusia dan Naifnya NATO 

Risiko Perang Suku Bunga Antar Bank Sentral Berpotensi Melebar
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Oleh Togi B. Girsang, praktisi manajemen risiko, governansi, dan kepatuhan 

AKTIVITAS ekonomi dan bisnis yang dianut banyak negara sangat cenderung dipengaruhi oleh buruknya kepedulian para pengusaha terhadap etika berbisnis yang peduli terhadap keberlangsungan dan keberlanjutan. Dengan alasan yang terlalu dipaksakan, antara lain karena keterbatasan pasokan, kemudian minimnya tingkat keterisian kontainer pada awal COVID-19, maka para pengusaha mengambil kesempatan untuk mengoptimalkan keuntungan dengan cara menciptakan hiruk-pikuk yang berujung pada harga pasar yang melonjak drastis. Alasan Rusia melakukan invasi dan peran Amerika Serikat (AS) yang seolah-olah ingin memanusiakan manusia mulai terkuak dan menegaskan bahwa dua negara ini adalah contoh bentuk keberterusterangan menaikkan risiko reputasinya untuk mempertontonkan superioritasnya.

Risiko reputasi cenderung tidak mudah dipulihkan. Butuh biaya, waktu, dan kesempatan untuk mendapatkan ruang maaf yang memadai. Fatalnya, sebagian besar negara anggota NATO juga tergiur untuk mencari cara melakonkan drama sebagai negara yang mendukung dihentikannya invasi dengan cara-cara yang cenderung naif. Mengapa demikian?

Berikut ini fakta-fakta yang sudah pernah diungkap namun tidak disampaikan dalam media terbuka dan tersusun secara sistematis:

Satu, anggaran pertahanan (keamanan dan peperangan). Per 2021, AS mengalokasikan hampir Rp11 kuadriliun. Sementara, Tiongkok hanya 1/3 dan Rusia 1/12 dari anggaran AS.

Dua, dengan alasan untuk menghukum dan menghentikan invasi Rusia, atas dorongan salah satu negara, NATO sepakat untuk menghukum Rusia dengan berbagai cara, antara lain menghentikan belanja minyak, menghentikan transaksi keuangan dengan Rusia, membekukan aset, dan melarang membeli emas.

Tiga, Tiongkok bermain cantik dengan mengalihkan belanja minyak dari Saudi Arabia ke Rusia untuk mendapatkan harga yang lebih pantas. Demikian pula India yang melakukan hal yang sama.

Empat, alih-alih konsisten menjalankan kebijakan penolakan fossil fuel (batu bara), atas nama kebutuhan mendesak, sejak Maret 2022, setidaknya ada tiga negara Eropa Barat yang sudah teken kontrak belanja batu bara dari Indonesia untuk menyubstitusi tingginya harga minyak dan gas.

Lima, Ukraina dan Rusia merupakan penyedia 80% minyak goreng (bunga matahari). Distribusi produk yang digunakan masyarakat umum ini justru terhenti akibat buruknya kebijakan NATO. 

Enam, alih-alih konsisten melarang penggunaan minyak sawit di Eropa, justru sudah ada beberapa negara Eropa yang menaikkan impor minyak goreng dari Indonesia, khususnya yang terbuat dari minyak sawit. 

Tujuh, inflasi makin mengganas. Kenaikan drastis dialami Italia, Yunani, Spanyol, dan Portugal.

Delapan, pelemahan drastis nilai tukar mata uang pun terjadi. Dibandingkan dengan Desember 2020, lira Turki melemah 120,6%, sementara forint Hongaria melemah 30% pada posisi Juli 2022.

Sembilan, secara umum inflasi Eropa naik dengan cepat. Dengan skenario konservatif saja, inflasi dinilai pada tingkatan 8,1% untuk posisi Mei 2022, atau setara 400% di atas normal. 

Sepuluh, Rusia sudah masuk kategori default sejak April 2022 sehingga gagal bayar utang bukan hal yang mengagetkan.

Dalam konteks risiko reputasi, fakta berikut ini memaparkan betapa rendahnya etika berbangsa dan bernegara dari pemimpin yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Fakta mencengangkannya adalah:

Satu, AS bersama Saudi Arabia dan Rusia adalah penguasa pasokan minyak dunia, yaitu 40,448 juta barel per hari, atau setara 73%  kebutuhan dunia.

Dua, AS, Rusia, Ukraina, Australia, dan Kanada  adalah lima negara penyedia 80% kebutuhan gandum dunia.  

Tiga, para penguasa jalur transportasi laut dan pemilik pasokan terbesar menetapkan harga minyak pada awal tahun 2022 naik 150% dibandingkan dengan 2020.

Empat, harga sewa kontainer sudah naik pada tingkat harga yang tidak masuk akal, yaitu di atas 300%, bahkan ada eksportir yang menyatakan kenaikannya mencapai 500%. 

Lima, uniknya, AS belanja 50% uranium yang berasal dari Rusia. Pembelian ini tidak pernah dihentikan walau atas nama “menghukum Rusia”. Sebaliknya, Rusia mengancam akan menghentikan pasokan uranium ke AS. Diperkirakan dalam hitungan kurang dari 12 bulan, sebagian kota di AS akan gelap gulita dan inflasi makin mengganas. 

Pertanyaannya:

Satu, siapa yang paling dirugikan ketika dunia ini aman? Tentu saja negara yang menghabiskan anggaran fantastis untuk pertahanan karena dianggap pemborosan dan cenderung tidak diperlukan.

Dua, siapa yang paling mungkin bertahan dengan situasi disrupsi keuangan, stagflasi, dan cenderung resesi ini? Yaitu negara yang memiliki ketersediaan sumber daya secara mandiri, antara lain sumber pembangkit listrik, bahan bakar kendaraan, gas, lahan pertanian, dan peternakan. 

Sebagai Ketua G20, Jokowi selaku Presiden Indonesia, sangat paham atas risiko yang melekat (inherent risk), baik risiko reputasi maupun risiko negara (country risk), yaitu dengan cara menunjukkan kepada dunia keluhuran orang Indonesia, Indonesia yang beradab, yang mengambil risiko dengan memosisikan diri sebagai pendorong perdamaian dunia, melalui kunjungan langsung ke negara-negara yang sedang berseteru. Di lain sisi, Indonesia dimungkinkan mengambil kesempatan emas untuk mengoptimalkan ekspor komoditasnya di saat hiruk pikuk dunia. Buku Mendajung Antara Dua Karang, karya Bung Hatta, telah menjadi fondasi kokoh bagi Indonesia untuk berpegang pada politik luar negeri yang bebas dan aktif.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]