Risiko Banjir Meningkat, Allianz Catat Klaim Asuransi Bali Rp22 Miliar di 2025

Risiko Banjir Meningkat, Allianz Catat Klaim Asuransi Bali Rp22 Miliar di 2025

Poin Penting

  • Allianz mencatat klaim asuransi di Bali mencapai Rp22 miliar sepanjang 2025, didominasi kerusakan akibat banjir dan longsor.
  • Kabupaten Badung, Denpasar, dan Gianyar menjadi penyumbang klaim terbesar, dengan klaim properti dan kendaraan paling terdampak.
  • Risiko banjir dinilai makin tak terduga dan meluas, mendorong asuransi properti dan kendaraan menjadi kebutuhan utama manajemen risiko.

Jakarta – Perubahan pola risiko banjir di Indonesia mulai berdampak signifikan terhadap industri asuransi. Pulau Bali, yang dikenal sebagai destinasi wisata internasional, mencatat lonjakan klaim asuransi akibat banjir dan longsor sepanjang 2025.

Berdasarkan data Allianz Utama Indonesia, total klaim asuransi properti dan kendaraan di Bali hingga Desember 2025 diperkirakan mencapai Rp22 miliar. 

Kabupaten Badung, Kota Denpasar, dan Kabupaten Gianyar menjadi kontributor utama, dengan jenis kerusakan yang didominasi banjir dan water damage.

“Klaim yang diajukan tertanggung asuransi property dan kendaraan di wilayah Bali per Desember 2025 diperkirakan mencapai Rp22 Miliar,” ujar Direktur dan Chief Technical Officer Allianz Utama Indonesia, Ignatius Hendrawan, dikutip Senin, 2 Februari 2026.

Baca juga: AllianzGI Sebut Ekonomi Global Solid, Tapi Investor Diminta Cermati Volatilitas Pasar

Ignatius menjelaskan, fenomena serupa juga terjadi di wilayah lain pada kuartal IV-2025, seperti Bima di Nusa Tenggara Timur serta sejumlah daerah di Kalimantan Selatan. Kondisi ini menandai perubahan struktural pada profil risiko bencana hidrometeorologi di Indonesia.

Kondisi ini menunjukkan pergeseran risiko banjir di Indonesia, dari risiko yang sebelumnya “terlokalisasi”, menjadi risiko yang semakin tidak terduga dan berdampak langsung pada aset masyarakat, khususnya rumah tinggal dan kendaraan pribadi.

“Yang berubah bukan hanya intensitas hujan, tapi juga pola risikonya. Ketika bencana, seperti banjir, bisa terjadi di area yang sebelumnya dianggap aman, masyarakat perlu melihat asuransi properti dan kendaraan sebagai bagian penting dari manajemen risiko, bukan sekadar perlindungan tambahan,” bebernya.

Asuransi Dinilai Kian Krusial

Menurut Ignatius, rumah dan kendaraan merupakan aset bernilai tinggi dengan biaya perbaikan yang berpotensi menjadi beban finansial besar saat terdampak banjir.

Sementara itu, kerugian akibat banjir kerap terjadi secara mendadak tanpa memberi ruang kesiapan finansial jika tidak dilindungi sejak awal.

“Perlindungan asuransi membantu mengalihkan risiko finansial, sehingga dampak banjir tidak sepenuhnya harus ditanggung oleh pemilik aset,” bebernya.

Baca juga: Allianz Indonesia Gandeng AllianzGI Indonesia Kelola Portofolio Investasi

Di tengah pola cuaca yang semakin sulit diprediksi, pendekatan perlindungan aset dinilai perlu berubah. Banjir tidak lagi dapat dipandang sebagai risiko musiman di wilayah tertentu, melainkan risiko yang bisa terjadi kapan saja.

“Perlindungan bukan tentang seberapa mungkin risiko terjadi kepada diri kita, tetapi tentang bagaimana kesiapan kita ketika risiko itu datang. Perubahan kesadaran ini yang selalu kami upayakan melalui berbagai inisiatif sebagai bentuk komitmen Allianz Utama dalam memberikan kenyamanan dan rasa tenang bagi nasabah dan masyarakat,” pungkasnya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Related Posts

News Update

Netizen +62