Poin Penting
- Adopsi AI di sektor keuangan meningkat, tetapi masih terkendala tata kelola dan infrastruktur
- Sebanyak 66 persen organisasi menghadapi risiko shadow AI, sementara 68 persen infrastrukturnya belum siap
- AI mempercepat kontainerisasi, namun tata kelola dan kedaulatan data tetap menjadi tantangan.
Jakarta – Adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di industri jasa keuangan terus meningkat. Namun, sebagian besar organisasi masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan skala implementasi AI akibat keterbatasan tata kelola, kesiapan infrastruktur, dan proses operasional.
Hal itu terungkap dalam laporan tahunan Financial Sector Enterprise Cloud Index (ECI) edisi kedelapan yang dirilis Nutanix, perusahaan penyedia solusi hybrid multicloud.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan AI berkembang pesat, tetapi belum diimbangi kesiapan organisasi dalam mengelola teknologi tersebut secara aman dan sesuai regulasi.
Salah satu temuan utama adalah meningkatnya fenomena shadow AI, yakni penggunaan aplikasi AI tanpa persetujuan resmi perusahaan.
Baca juga: AI dan Cloud Jadi Kunci Percepat Transformasi Core Banking di Indonesia
Sebanyak 66 persen eksekutif TI mengaku menemukan praktik tersebut di organisasinya, sementara 86 persen menilai kondisi itu berpotensi menimbulkan risiko bisnis.
Selain itu, tantangan terbesar dalam memperluas implementasi AI justru berasal dari aspek nonteknis. Sebanyak 38 persen responden menyebut kompleksitas proses bisnis sebagai hambatan utama, disusul faktor organisasi seperti kepemimpinan dan ketersediaan talenta (34 persen). Adapun kendala teknis hanya disebut oleh 28 persen responden.
Laporan juga menyoroti meningkatnya tantangan terkait kedaulatan data (data sovereignty). Sebanyak 79 persen organisasi menjadikan isu tersebut sebagai prioritas, tetapi 62 persen masih menjalankan beban kerja berbasis kontainer di public cloud.
Kondisi ini memunculkan fenomena yang disebut “sovereignty debt”, yakni akumulasi risiko akibat penempatan data yang belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan regulasi.
Di sisi lain, AI juga mendorong percepatan adopsi teknologi kontainerisasi. Sebanyak 90 persen responden menyatakan AI mempercepat penggunaan kontainer, sementara 89 persen memperkirakan tren tersebut akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Meski adopsi AI terus berkembang, kesiapan infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah. Sebanyak 68 persen responden mengakui infrastruktur yang dimiliki belum sepenuhnya siap menjalankan beban kerja AI secara on-premises.
Akibatnya, hampir dua pertiga organisasi atau 64 persen memilih mengandalkan penyedia layanan pihak ketiga untuk menutup kesenjangan tersebut.
Vice President & General Manager APJ Nutanix, Jay Tuseth, mengatakan persaingan implementasi AI kini tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki model AI paling canggih, melainkan siapa yang mampu menerapkannya secara aman, terukur, dan sesuai regulasi.
Baca juga: Core Banking Modern Dorong Lompatan Layanan Perbankan Syariah
“Di seluruh kawasan APJ, keberhasilan implementasi AI sangat bergantung pada kemampuan organisasi menyelaraskan infrastruktur dengan kebutuhan regulasi regional dan kedaulatan data. Platform berbasis kontainer yang fleksibel menjadi fondasi penting untuk mengelola beban kerja AI di lingkungan hybrid cloud,” ujar Jay dikutip 24 Juni 2026.
Sebagai informasi, riset ini merupakan studi tahunan kedelapan yang diinisiasi Nutanix. Survei dilakukan oleh Wakefield Research pada November 2025 terhadap 1.600 eksekutif di bidang cloud, TI, dan engineering dari perusahaan dengan lebih dari 500 karyawan di 14 negara, termasuk Australia, Jepang, Singapura, India, Inggris, Amerika Serikat, Jerman, hingga Arab Saudi. (*)


