Poin Penting
- Perbankan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, mempercepat modernisasi sistem untuk menjawab tuntutan layanan digital dan kompetisi fintech
- Temenos menilai cloud dan AI mempercepat transformasi core banking, dengan Indonesia menjadi pasar strategis
- Masa depan perbankan ditopang cloud, AI, dan kolaborasi ekosistem untuk layanan yang lebih cepat dan efisien.
Jakarta – Industri perbankan di Asia Pasifik, termasuk Indonesia, kini memasuki fase transformasi digital yang semakin agresif. Lonjakan ekspektasi nasabah terhadap layanan digital, kehadiran fintech, hingga tuntutan inovasi yang cepat mendorong bank mempercepat modernisasi sistem teknologi sebagai strategi utama.
Head of Existing Business APAC Temenos Swapnil Deshmukh menegaskan, bank tidak lagi dapat bergantung pada sistem legacy untuk menjawab kebutuhan industri saat ini. Menurutnya, fondasi teknologi modern menjadi kunci untuk mempercepat inovasi sekaligus meningkatkan pengalaman nasabah.
“Skala transformasi di Asia Pasifik mencerminkan meningkatnya kebutuhan industri terhadap modernisasi sistem perbankan. Dalam setahun terakhir, Temenos telah menyelesaikan sejumlah proyek transformasi besar yang kini telah beroperasi secara penuh,” ujar Swapnil dalam acara Temenos Connect di Jakarta.
Indonesia disebut menjadi salah satu pasar strategis bagi Temenos. Sejumlah bank nasional telah memanfaatkan platform tersebut, di antaranya Bank Rakyat Indonesia, Bank Syariah Indonesia, Allo Bank Indonesia, dan Bank Saqu.
Baca juga: Core Banking Modern Dorong Lompatan Layanan Perbankan Syariah
Modernisasi Core Banking Makin Cepat
Swapnil menilai, Indonesia memiliki daya tarik besar berkat populasi besar, pertumbuhan ekonomi digital, dan tingginya adopsi teknologi. Hal ini membuat pasar perbankan domestik sangat prospektif untuk transformasi digital.
Salah satu contoh percepatan modernisasi terjadi pada LPBank yang berhasil melakukan migrasi sistem core banking dari legacy ke platform baru dalam waktu sekitar 5,5 bulan.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa modernisasi core banking kini dapat dilakukan lebih cepat berkat kematangan teknologi, metode implementasi yang semakin solid, serta ekosistem mitra yang kuat.
Selain core banking, Temenos juga melihat potensi besar pada segmen wealth management dan corporate banking, termasuk implementasi di bank global seperti ABN AMRO serta grup perbankan Jepang dengan aset lebih dari USD1 triliun.
“Modernisasi tidak lagi terbatas pada transaksi dasar, tetapi juga mencakup layanan kompleks seperti wealth management, pembiayaan korporasi, dan layanan digital yang semakin personal,” tambahnya.
Cloud dan AI Jadi Penggerak Utama
Di sisi lain, teknologi cloud computing dan kecerdasan buatan (AI) diproyeksikan menjadi motor utama transformasi perbankan ke depan. Kedua teknologi ini memungkinkan bank meningkatkan efisiensi, mempercepat pengambilan keputusan, dan menghadirkan layanan yang lebih relevan.
Business Solution Director APAC Temenos, Frankie Wai, menyebut AI kini tidak lagi sebatas proyek uji coba, melainkan sudah menjadi bagian inti operasional bank.
“Bank saat ini semakin fokus pada percepatan pertumbuhan bisnis, peningkatan pengalaman nasabah, efisiensi operasional, dan kepatuhan terhadap regulasi,” ujarnya.
Tantangan Legacy dan Arah Composable Banking
Di Asia Tenggara, bank masih menghadapi tantangan klasik seperti sistem legacy, tekanan regulasi, dan percepatan digitalisasi. Kondisi ini mendorong adopsi pendekatan cloud-native dan composable banking yang lebih fleksibel dan minim risiko.
Sementara itu, infrastruktur modern juga menjadi perhatian pelaku teknologi lain seperti Red Hat yang menekankan pentingnya skalabilitas dan ketahanan sistem untuk menopang layanan digital perbankan.
Dari sisi integrator, Systems Limited menilai keberhasilan intelligent banking sangat bergantung pada integrasi AI ke dalam sistem inti operasional, bukan hanya sebagai fitur tambahan.
Kesiapan Bank Indonesia di Level Regional
President Director Fortress Digital Services (FDS), Sutjahyo Budiman, menilai bank yang ingin bersaing di level regional harus memiliki fondasi teknologi yang kuat. Ia menyoroti masih banyak bank yang bergantung pada sistem lama yang belum mendukung kebutuhan modern seperti transaksi real-time, API, hingga adopsi AI.
“Industri kini bergerak dari digitalisasi menuju pembangunan ekosistem. Kita memasuki era intelligence, di mana AI dan keamanan siber menjadi fondasi utama pertumbuhan,” ujarnya.
Namun demikian, ia menilai baru sebagian kecil institusi keuangan yang telah mengintegrasikan AI secara menyeluruh.
Baca juga: Perbarindo Dorong BPR/BPRS Perkuat Tata Kelola di Tengah Disrupsi Teknologi AI
Transformasi Pembiayaan dan Sistem Pembayaran
Di sektor corporate lending, kebutuhan pembiayaan yang semakin kompleks mendorong bank menghadirkan layanan yang lebih cepat dan digital seperti retail banking, termasuk fleksibilitas pembiayaan dan pengambilan keputusan real-time.
Sementara di sistem pembayaran, transformasi didorong oleh implementasi ISO 20022, instant payment, open banking, hingga potensi mata uang digital.
Di Indonesia, berbagai inisiatif seperti modernisasi RTGS, SNAP, dan Project Nexus memperkuat arah transformasi sistem pembayaran nasional.
Kolaborasi Jadi Kunci
Temenos juga mendorong pendekatan platform terpadu untuk pembayaran dan manajemen risiko berbasis AI. Kolaborasi antara bank, penyedia teknologi, dan system integrator dinilai menjadi kunci keberhasilan transformasi.
Industri perbankan kini bergerak menuju era baru yang ditopang oleh cloud, AI, composable architecture, dan intelligent banking sebagai faktor penentu daya saing di masa depan.


