Poin Penting
- RI dan Jepang menandatangani 10 MoU dengan nilai total USD23,1 miliar (Rp392,7 triliun).
- Jepang jadi mitra strategis, investor utama, dan tujuan ekspor penting bagi Indonesia.
- Kerja sama diarahkan ke energi hijau, hilirisasi industri, dan penguatan rantai pasok global.
Jakarta – Indonesia dan Jepang sepakat menandatangani 10 Nota Kesepahaman (MoU) dengan total nilai kerja sama mencapai sekitar USD23,1 miliar atau setara Rp392,7 triliun.
Kesepakatan tersebut ditandatangani dalam kunjungan resmi Presiden RI Prabowo Subianto ke Jepang. Ia didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Maju pada, Senin (30/3) dalam pertemuan Forum Bisnis Indonesia-Jepang.
Sebagaimana diketahui, Indonesia dan Jepang telah menjalin kemitraan komprehensif selama 68 tahun di berbagai sektor strategis, mulai dari ekonomi, politik, hingga sosial budaya.
Baca juga: Presiden Prabowo Kunjungan Kenegaraan ke Jepang, Bahas Investasi hingga Energi
Prabowo menegaskan bahwa hubungan ekonomi kedua negara yang telah terbangun selama puluhan tahun didukung kontribusi perusahaan Jepang di berbagai sektor di Indonesia.
“Saya hadir di sini bukan hanya untuk melanjutkan kemitraan yang sudah ada, tetapi untuk mendorongnya ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih cepat. Dunia semakin mengecil. Tidak ada pilihan lain selain kerja sama erat di semua bidang. Saya percaya hubungan ekonomi dan kemitraan yang kuat akan menghasilkan perdamaian dan persahabatan yang berkelanjutan. Jika kita memiliki kepentingan bersama, kita akan menjaga masa kini dan masa depan,” ujar Prabowo.
Jepang Jadi Mitra Strategis dan Investor Utama
Forum ini menjadi panggung penting bagi Indonesia untuk menegaskan posisinya sebagai mitra strategis utama Jepang di kawasan, sekaligus membuka babak baru kerja sama ekonomi yang lebih modern, tangguh, dan berorientasi masa depan.
Lebih jauh, hubungan ekonomi Indonesia dan Jepang saat ini semakin solid, terlihat dari posisi Jepang sebagai tujuan ekspor terbesar keempat Indonesia dengan nilai USD17,61 miliar. Selain itu, Jepang juga menjadi investor terbesar kelima dengan total investasi USD3,13 miliar, terutama di sektor otomotif, alat transportasi, kimia, dan farmasi.
Jepang turut berperan dalam pembangunan infrastruktur melalui skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU), serta bantuan pembangunan di sektor transportasi, pelabuhan, energi, dan infrastruktur perkotaan.
Baca juga: Resmi! Turis Jepang Kini Bisa Bayar Pakai QRIS di Indonesia, Tak Perlu Tukar Uang
Di hadapan pelaku usaha, Prabowo menilai investasi Jepang memiliki kualitas tinggi, disiplin, penguasaan teknologi, dan komitmen jangka panjang.
“Jepang membawa kualitas dalam investasi, disiplin, teknologi, dan komitmen jangka panjang. Itulah sebabnya investasi Jepang dihormati, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia dan secara pribadi saya sangat menghargai hubungan ini,” kata Prabowo.
IJEPA Diperbarui, Fokus ke Masa Depan
Sementara itu, Airlangga menyatakan, pembaruan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) ini diperkirakan akan memperkuat fondasi kerja sama kedua negara melalui peningkatan akses pasar, perluasan kolaborasi, serta modernisasi kerangka ekonomi bilateral.
“Pertemuan business-to-business dan pertukaran MoU ini merupakan langkah konkret menuju pembangunan kemitraan yang lebih kuat. Indonesia percaya bahwa masa depan kemitraan ini terletak pada bekerja, berinovasi, dan bertumbuh bersama, sehingga dapat membentuk masa depan yang penuh kemakmuran bersama, tak hanya untuk kedua negara, tetapi juga untuk kawasan Indo-Pasifik,” ujar Airlangga.
Baca juga: Bos BI Jamin Investor Jepang Bakal Cuan di Indonesia
Ke depan, kerja sama Indonesia dan Jepang diharapkan melampaui model ekonomi tradisional menuju penciptaan solusi masa depan bersama. Fokus diarahkan pada tiga area utama, yaitu transisi energi dan pertumbuhan hijau, transformasi industri dan hilirisasi, serta penguatan rantai pasok global. (*)
Editor: Yulian Saputra










