Poin Penting
- Tahun pertama, PT Sinar Mas Asuransi Syariah memprioritaskan penyelesaian proses spin-off dan pengalihan portofolio kepesertaan dalam 3–6 bulan
- Proses pemindahan aset dan liabilitas tabarru dari unit usaha syariah ke perusahaan baru diklaim berjalan lancar, sambil menunggu perizinan OJK untuk portofolio lama.
- Perusahaan menekankan tata kelola digital, pengembangan sistem TI internal, serta pemanfaatan AI untuk seleksi bisnis, penilaian risiko, klaim, dan rekrutmen.
Jakarta – PT Sinar Mas Asuransi Syariah menegaskan fokus utama bisnisnya di tahun pertama usai memisahkan diri dari induknya, PT Asuransi Sinar Mas melalui mekanisme spin-off.
“Jadi untuk satu tahun ini fokusnya kita tentunya menyelesaikan proses spin off dulu ya. Ini kan baru izin keluar di kita dan kita baru satu bulan langsung launching peresmian perusahaan,” ujar Daniel Armagatlie, Direktur Utama PT Sinar Mas Asuransi Syariah, di Jakarta, Senin, 26 Januari 2026.
Menurutnya, usai peresmian perusahaan sebagai entitas anyar, perseroan akan fokus pada pengalihan portofolio kepesertaan yang dirampungkan selama 3-6 bulan ke depan.
“Namun untuk polis barunya sudah langsung atas nama SMAS (Sinar Mas Asuransi Syariah). Jadi kita akan pisahkan dua jalan pararel, yang bisnis barunya sudah masuk di SMAS. Sedangkan yang bekas unit itu kitaa nunggu izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dulu,” jelasnya.
Ia menegaskan, seluruh proses pengalihan portofolio ke entitas baru tersebut berjalan mulus, mulai dari aset dan liability tabarru yang berada di unit usaha syariah (UUS).
Baca juga: Asuransi Sinar Mas Syariah Targetkan Pengalihan Portofolio Rampung dalam 3 Bulan
Tata Kelola Digital
Sejalan dengan itu, Daniel menyampaikan bahwa penerapan tata kelola digital menjadi fokus utama perusahaan. Hal ini meminimalisir dampak risiko fraud yang belakangan kembali mencuat.
Saat ini, kata Daniel, perusahaan telah memiliki divisi pengendalian internal yang sejalan dengan perusahaan induk, termasuk dalam hal pengawasan dan pengendalian risiko. Namun, diakuinya, dari sisi sumber daya manusia (SDM), perusahaan masih dalam tahap pembelajaran.
“Untuk itu, masing-masing departemen hanya ditempatkan satu orang person in charge (PIC) yang bertugas belajar langsung dari induk perusahaan,” jelasnya.
Baca juga: Asuransi Multi Artha Guna (AMAG) Mau Buyback Saham, Siapkan Dana Rp90,15 Miliar
Dari sisi anggaran, perusahaan juga mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/Capex) untuk pengembangan dan pengamanan teknologi informasi. Seluruh sistem dikembangkan secara mandiri.
Menurutnya, meski bisnis inti atau core bisnis “dibeli”, namun pengaplikasian dan pengembangan sistem dilakukan sendiri oleh internal perusahaan.
“Secara aplikasi kita lebih efisien dibandingkan membeli sistem jadi dari vendor. Jika ada perubahan, kami bisa ubah sendiri sehingga anggarannya lebih efisien,” bebernya.
Tak kalah pentingnya, saat ini perusahaan juga tengah mengembangkan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mendukung otomatisasi proses bisnis.
AI telah diterapkan mulai dari seleksi penerimaan bisnis baru, penilaian kelayakan risiko, hingga proses klaim dan rekrutmen SDM.
“Jadi mulai dari penerimaan bisnis baru, kita terima,bisnis ini sudah langsung selektif, apakah bisnis ini bisa kita ambil atau enggak. Ketika dia bisa ambi, kita bisa langsung absorb bisnis ini bisa dengan term kondisi tertentu dan langsung jadi polis, termasuk rekrutan SDM juga sama,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama










