Poin Penting
- IHSG naik 0,83 persen ke level 5.924 ditopang BBCA, DCII, dan BMRI, namun investor asing masih mencatatkan outflow USD73 juta di pasar saham
- Pemerintah menawarkan ORI30 dengan kupon 6,9–7 persen (tertinggi dalam 8 tahun) dan BPI Danantara menggabungkan empat manajer investasi BUMN
- INDOBeX Composite melemah 0,2 persen, yield SUN 10 tahun naik dari 7,14 persen menjadi 7,23 persen, dan investor asing mencatatkan outflow USD54 juta dari pasar obligasi pemerintah.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan menutup perdagangan pekan lalu dengan penguatan 0,83 persen ke level 5.924, seiring sentimen positif dari sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar.
Meski demikian, investor asing masih mencatatkan arus keluar baik di pasar saham maupun obligasi pemerintah.
Berdasarkan riset Syailendra, penguatan IHSG terutama ditopang oleh saham Bank Central Asia (BBCA), DCI Indonesia (DCII), dan Bank Mandiri (BMRI).
Sebaliknya, saham Bayan Resources (BYAN), Mora Telematika Indonesia (MORA), dan Sinarmas Multiartha (SMMA) menjadi pemberat utama indeks.
Baca juga: IHSG Sepekan Naik 0,83 Persen, Kapitalisasi Pasar jadi Rp10.340 Triliun
Peristiwa Penting Sepekan
Dari sisi kebijakan fiskal, pemerintah menyepakati proyeksi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun 2027 sebesar Rp174 triliun, turun dibandingkan alokasi tahun 2026 sebesar Rp268 triliun.
Penyesuaian dilakukan untuk meningkatkan efisiensi tata kelola tanpa mengurangi kualitas gizi penerima manfaat.
Di pasar modal, S&P Dow Jones Indices memasukkan pasar saham Indonesia ke dalam watchlist potensi penurunan status menjadi frontier market.
Langkah tersebut dipicu kekhawatiran investor global terhadap likuiditas pasar, transparansi, serta keterbatasan porsi saham beredar bebas (free float).
Sementara itu, BPI Danantara resmi menggabungkan empat manajer investasi BUMN, yakni PNM Investment Management, BNI Asset Management, Mandiri Manajemen Investasi, dan BRI Manajemen Investasi.
Dalam konsolidasi tersebut, Mandiri Manajemen Investasi ditetapkan sebagai entitas yang bertahan dengan tujuan membentuk perusahaan manajer investasi terbesar di Indonesia.
ORI30 Tawarkan Kupon Tertinggi dalam 8 Tahun
Pemerintah juga mulai menawarkan obligasi ritel seri ORI30 dengan kupon 6,9–7 persen, menjadi tingkat kupon tertinggi dalam delapan tahun terakhir.
Masa penawaran berlangsung pada 6–30 Juli 2026 dengan target penghimpunan dana sebesar Rp20 triliun.
Gejolak Global Dorong Harga Minyak
Sentimen eksternal turut memengaruhi pasar keuangan domestik. Militer Amerika Serikat (AS) menyerang Iran selama dua hari berturut-turut setelah Iran menyerang kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz. Setelah serangan tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan antara AS dan Iran telah berakhir.
Ketegangan geopolitik tersebut mendorong harga minyak mentah dunia, baik West Texas Intermediate maupun Brent Crude, kembali mendekati level USD80 per barel.
Di pasar saham, investor asing membukukan arus keluar sebesar USD73 juta, melanjutkan outflow USD152 juta pada pekan sebelumnya.
Baca juga: Deretan Saham Pendorong IHSG Sepekan, Ada BBRI, BBCA hingga DCII
Tekanan juga terjadi di pasar obligasi. Indeks INDOBeX Composite melemah 0,2 persen dalam sepekan terakhir. Yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun naik dari 7,14 persen menjadi 7,23 persen.
Investor asing mencatatkan arus keluar dari pasar SUN Indonesia sebesar USD54 juta, berbalik arah dari inflow USD78 juta pada pekan sebelumnya.
Prospek Pasar Pekan Ini
Syailendra menilai pelaku pasar akan mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak dunia, serta respons investor global terhadap isu status pasar saham Indonesia.
Di sisi domestik, penawaran ORI30 dan perkembangan konsolidasi BUMN investasi diperkirakan menjadi sentimen tambahan bagi pasar keuangan nasional. (*)


