Jakarta – Sudah setahun lebih Badan Pengelolaan Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) berdiri. Superholding yang didirikan untuk memayungi badan usaha milik negara (BUMN) dan digadang-gadang akan menjadi Sovereign Wealth Fund (SWF) terbesar di dunia.
Publik menunggu-nunggu laporan keuangannya yang sampai sekarang belum disampaikan. Publik ingin tahu apakah Danantara bisa menunjukkan tanda-tanda akan bisa mewujudkan mimpi besar Presiden Prabowo Subianto yang meyakini Danantara bisa menjadi solusi strategis untuk mengoptimalkan kinerja BUMN agar mampu bertransformasi menjadi pemimpin kelas dunia di sektor masing-masing.
Jalan mewujudkan mimpi tersebut sepertinya masih panjang. Pada tahun pertama Danantara lebih fokus melakukan konsolidasi dan restrukturisasi. Sebab, BUMN banyak diwarnai perusahaan-perusahaan pelat merah dengan rapor merah padam dan tertimbun utang jumbo.
Baca juga: Prabowo Tutup 290 BUMN, Ini Gebrakan Berikutnya
Dalam berbagai kesempatan, Dony Oskaria, Chief Operating Officer (COO) Danantara, mengungkapkan banyaknya rekayasa keuangan di sejumlah BUMN. Seolah-olah untung tapi tidak ada uangnya. Termasuk cash yang digelembungkan hingga piutang fiktif. Sehingga, sejumlah BUMN harus melakukan penurunan aset (impairment) hingga ratusan triliun, termasuk Telekomunikasi Indonesia.
Menurut Kajian The Asian Post Research bertajuk Rating 160 BUMN 2026, sebagian besar perusahaan BUMN memiliki tingkat solvabilitas yang rendah seperti terindikasi dari debt to asset ratio (DAR) yang di atas 60 persen. Hanya 22 perusahaan yang memiliki DAR di bawah 50 persen.
Sedangkan jumlah perusahaan BUMN yang merugi sebanyak 23 perusahaan BUMN dengan total kerugian Rp25,12 triliun. Kerugian banyak disumbang oleh perusahaan BUMN karya yang tingkat solvabilitasnya yang sangat lemah karena mencatat DAR di atas 90 persen.
Pada 2025, Waskita Karya merugi Rp4,48 triliun dengan DAR 94,81 persen, Wijaya Karya merugi Rp10,13 triliun dengan DAR 96,64 persen, Pembangunan Perumahan merugi Rp7,99 triliun dengan DAR 89,98 persen, Adhi Karya yang merugi Rp5,59 triliun dengan DAR 88,55 persen, dan Perum Perumnas yang merugi Rp371 miliar dengan DAR 86,51 persen.
Baca juga: Efisiensi BUMN Capai Rp50 Triliun, Danantara Dorong Optimalisasi Aset Negara
Rating 160 BUMN 2026 mengukur kinerja 160 perusahaan BUMN yang terdiri dari 68 perusahaan BUMN, 88 anak usaha BUMN, dan beberapa perusahaan pelat merah di bawah Kemenkeu. Hasilnya, yang meraih predikat Sangat Bagus hanya 22 perusahaan BUMN, 34 perusahaan anak BUMN, dan 2 perusahaan pelat merah di bawah Kemenkeu.
Perusahaan BUMN yang gagal meraih predikat Sangat Bagus sebagian besar karena asetnya tidak menghasilkan pendapatan sehingga arus uang menipis.
Seperti apa rapor perusahaan BUMN menurut riset The Asian Post 2026? Mengapa di bawah patung Danantara BUMN masih seperti di persimpangan jalan antara menjadi pemain pasar atau terus terikat oleh program-program pemerintah? Simak selengkapnya di Majalah Infobank Nomor 581 September 2026! (KM)


