Rapor Bank Digital, Akankah Euforia Saham Bank-Bank Kecil Berakhir?

Rapor Bank Digital, Akankah Euforia Saham Bank-Bank Kecil Berakhir?

Rapor Bank Digital, Akankah Euforia Saham Bank-Bank Kecil Berakhir?
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Oleh, Karnoto Mohamad Wakil Pemimpin Redaksi Infobank

MUNDUR-nya Tigor M. Siahaan dari kursi direktur utama Bank CIMB Niaga pada 22 Oktober lalu mengejutkan para bankir. Sebab, bankir swasta yang digembleng di Citibank ini terbilang sukses memperbaiki kinerja Bank CIMB Niaga sejak memimpin pada Maret 2015, bahkan performanya cukup kokoh di tengah pandemi COVID-19. Perbaikan paling menonjol adalah peningkatan rasio dana murah dari 44,77% pada 2015 menjadi 47,94% pada 2016 yang terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya hingga menjadi 62,45% pada Juni 2021. Sejumlah sumber Infobank menyebutkan nama Lani Darmawan sebagai kandidat pengganti Tigor dari dalam organisasi. Sedangkan Tigor Siahaan sendiri dikabarkan akan membangun start-up bersama sebuah grup usaha besar setelah mundur dari Bank CIMB Niaga.

Jika benar, Tigor akan mengikuti jejak Jerry Ng, bankir kawakan yang berhasil melipatsepuluhkan aset Bank BTPN selama 10 tahun memimpin hingga menarik SMBC asal Jepang terpikat mengambil alih kepemilikan sahamnya dari Texas Pacific Group. Setelah menuntaskan merger Bank BTPN dan Bank Sumitomo, Jerry mundur dan bersama Patrick Waluyo membeli Bank Artos pada akhir 2019 lalu diubah menjadi Bank Jago yang mereposisi dirinya sebagai bank digital.

Jerry berhasil membangun “cerita” tranformasi bank digital. Meski Bank Artos menelan kerugian sejak 2015 dan baru mencetak untung Rp14 miliar per September 2021, harga saham Bank Jago terbang dari Rp2.400 per saham pada awal 2020 menjadi Rp15.250 per lembar per 26 Oktober 2021, bahkan pernah menyentuh Rp18.375 pada 28 Juli 2021 dan kapitalisasi sahamnya mencapai Rp 241 triliun mengalahkan banyak bank-bank raksasa.

Bank digital sepertinya menjadi trending topik di dunia perbankan dan investor pasar modal. Kendati banyak bank kecil kinerjanya tertekan, namun dengan positioning sebagai bank digital dipandang investor lebih prospektif dibanding bank-bank raksasa yang rasio-rasio keuangannya saat ini jauh lebih baik.

Bank Jago seperti menjadi katalis sebagian bank-bank kecil untuk ramai-ramai melakukan transformasi menjadi bank digital. Di tengah pertumbuhan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang stagnan selama setahun berjalan, sejumlah emiten bank yang membangun cerita akan digital harga sahamnya melesat sepanjang tahun 2021 ini. Selain Bank Jago, ada BRI Agroniaga terbang 108,82,3% dan Bank Neo Commerce yang meroket 416,79%, bahkan Bank Allo Indonesia melesat hingga 4.024,51%%.

Menurut catatan Infobank, ada enam bank kecil yang bertransformasi dengan memposisikan diri sebagai bank digital yaitu Bank Maybank Syariah yang menjadi Bank Aladin Syariah, Bank Harda yang menjadi Allo Bank Indonesia, Bank BRI Agroniaga yang menjadi Bank Raya, Bank Royal yang menjadi Bank Digital BCA, serta Bank Yudha Bakti yang menjadi Bank Neo Commerce. Di antara bank-bank tersebut, hanya Bank Digital BCA yang belum berstatus go public namun BCA sebagai induknya sudah siap mengantarkan bank ini melantai ke bursa efek.

OJK mencermati adanya unsur gimmick dan dengan mengklaim bank digital agar harga saham naik dan sebagainya. Sejumlah kalangan berpendapat bahwa melesatnya saham bank-bank kecil adalah sebuah euphoria yang akan berakhir. Sebab, tidak seperti bank konvensional yang dinilai dari pencapaian angka-angka, bank digital dinilai dari cerita tentang prospek dan potensi bisnis di masa depan. Selain itu, terbangnya saham-saham bank kecil tidak terlepas dari masih rendahnya literasi investor ritel yang kini didominasi oleh generasi milenial.

Saat ini, investor pasar modal kian generasi Y. Sebab, dari 6,1 juta investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), 80,46% adalah investor berusia 40 tahun ke bawah. Generasi milenial umumnya digital minded dan ketika mereka masuk ke bursa saham lebih tertarik dengan saham perusahaan yang memposisikan dirinya di bidang teknologi. Dengan persepsi yang diciptakan para influencer di pasar yang getol membangun persepsi para investor ritel yang umumnya kurang berpengalaman, mereka pun ikut-ikutan membeli saham tanpa mengerti fundamental perusahaan, yaitu laba bersih atau earnings per share (EPS), dividen dan pertumbuhan ke depan.

“Kasihan investor ritel kecil dan deposan-deposan bank digital, karena jika ada satu yang gagal, bisa berakibat sistemik untuk kategorinya, seperti Bank Century dulu, dimana LPS mesti turun tangan,” ujar seorang bankir senior kepada Infobank.

Menurut data Biro Riset Infobank, kontribusi pendapatan bunga masih mendominasi total pendapatan perbankan, kendati terlihat terjadi tren penurunan. Sejak industri perbankan tidak lagi menikmati pertumbuhan kredit di atas 20% pada 2014, bank-bank pun berusaha menggenjot pendapatan nonbunga. Kontribusi pendapatan bunga terhadap total pendapatan bank sebesar 74% pada 2018, 72%% pada 2019, 66% pada 2020, dan 61% per Juli 2021. Kenaikan pendapatan non bunga atau fee-based income juga lebih didorong oleh bank-bank konvensional raksasa dengan basis nasabah yang sangat besar.

Selain itu, penguasaan pasar DPK juga masih sangat dikuasai oleh bank-bank raksasa. Dari jumlah DPK yang mencapai Rp7.000 triliun, penguasaan pasar bank-bank digital hanya sekitar 5%. Karena perusahaan dan individu yang punya uang banyak belum mau menaruh tabungan dan giro ratusan juta hingga miliaran rupiah, sehingga bagaimana bank digital menghadapi tantangan bagaimana mendapatkan dana murah yaitu giro dan tabungan atau current account dan saving account (CASA).

Perlu dicatat, kunci penting keuntungan utama bank masih berasal dari spread atau net interest margin, yaitu bagaimana menyalurkan kredit dalam jumlah besar dengan biaya dana yang rendah. Sementara dari sembilan emiten bank yang memposisikan diri sebagai bank digital, memiliki rasio CASA rara-rata hanya 25%. Sedangkan bank-bank raksasa umumnya memiliki rasio CASA di atas 50%, seperti BCA yang 78%, Bank Mandiri 73%, BNI 69%, Bani CIMB Niaga 62%, atau BRI 60%.

Lalu, jika melihat fundamental bank-bank kecil yang memposisikan dirinya sebagai bank digital masih belum ketahuan ke depannya, apakah euphoria saham bank-bank kecil yang memposisikan dirinya sebagai bank digital akan berakhir? Tergantung kepada tingkat kesabaran investor untuk bisa menerima deviden. Sementara, studi menyebutkan dibutuhkan waktu dua sampai lima tahun bagi bank digital untuk bisa mencetak laba. Itu pun tergantung bank digitalnya apakah akan berhasil atau tidak. Sebab, riset Boston Consulting Group mengatakan bahwa dari 249 bank digital di dunia hanya 13 bank yang menguntungkan. Di Korea Selatan dari tiga bank digital hanya satu yang menguntungkan yaitu Kakao Bank. Di Tiongkok dari 16 bank digital hanya empat bank yang untung salah satunya WeBank.

Bagaimana di Indonesia? Seperti apa rapor bank-bank yang memposisikan diri sebagai bank digital di pasar? Bank digital mana yang memiliki prospek untuk bertahan dan menguntungkan? Baca selengkapnya di Majalah Infobank Nomor 523 November 2021.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]