Oleh Eko B. Supriyanto, Pimpinan Redaksi Infobank Media Group
HARI-hari ini, pasar modal loyo. Pasar terluka, meski Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih menempatkan pasar modal Indonesia tetap di kategori emerging market. Nah, di tengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kehilangan tenaga, likuiditas yang menyusut, dan investor asing yang terus keluar, IPO RANS menjadi ujian. Apakah ini peluang investasi berbasis fundamental atau sekadar monetisasi popularitas?
Pasar modal Indonesia sedang tidak dalam kondisi yang dapat disebut baik-baik saja. IHSG bergerak dalam ritme yang melelahkan. Naik sejenak, lalu kembali terperosok. Investor asing terus mencatatkan net sell, seolah tak percaya pada cerita pemulihan yang berulang kali digaungkan. Lebih mengkhawatirkan, daya beli masyarakat melemah. Kelas menengah—tulang punggung konsumsi dan investasi ritel—menyusut dalam diam.
Bahkan, banyak saham dengan fundamental kokoh justru diperdagangkan di bawah nilai wajarnya, seakan pasar telah kehilangan kemampuan untuk menghargai kualitas. Dalam suasana seperti inilah, PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) mengetuk pintu bursa, membawa nama besar Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Pertanyaannya bukan apakah Raffi terkenal. Pertanyaannya adalah apakah saham ini layak dibeli pada harga Rp135–Rp170 per saham, ataukah publik sedang diminta membayar mahal untuk sebuah popularitas yang belum tentu bisa dikonversi menjadi laba jangka panjang.

IPO di Tengah Musim Kemarau Pasar Modal
Timing sebuah IPO bukanlah perkara remeh. Ia adalah pernyataan tentang urgensi, kepercayaan diri, dan—tak jarang—keterpaksaan. Ketika pasar sedang bearish, investor menjadi sangat selektif. Mereka mencari perusahaan dengan pertumbuhan laba yang kuat, arus kas yang sehat, model bisnis yang defensif, dan valuasi yang murah. Ini adalah logika dasar dari naluri bertahan: dalam badai, kapal yang kokoh lebih berharga daripada kapal yang berkilau.
Lalu, di manakah posisi RANS? Perusahaan ini datang bukan dengan pertumbuhan laba, melainkan dengan penurunan laba. Bukan dengan model bisnis yang telah teruji dalam berbagai siklus ekonomi, melainkan dengan model yang sangat bergantung pada satu nama besar.
Maka, pertanyaan yang harus diajukan oleh setiap investor adalah: mengapa IPO dilakukan sekarang? Apakah ini lahir dari kebutuhan ekspansi yang mendesak, atau justru dari keinginan pemegang saham untuk memonetisasi popularitas sebelum siklus perhatian publik bergeser? Dalam ekonomi perhatian, popularitas adalah aset yang paling berharga sekaligus paling rapuh. Ia bisa mekar hari ini dan layu esok pagi. Jika timing IPO didasarkan pada puncak popularitas, maka investor yang masuk di harga perdana berpotensi menjadi pihak yang menanggung risiko penurunan siklus.
Kinerja Fundamental Sedang Turun
Mari kita lihat angka-angka yang tersedia. Pendapatan RANS turun 13,91 persen, dari Rp410,50 miliar menjadi Rp353,38 miliar. Laba bersih turun lebih tajam lagi, 41,60 persen, dari Rp97,07 miliar menjadi Rp56,69 miliar. Dua segmen utama mengalami kontraksi: segmen duta merek dan talent management turun 51,55 persen, sementara pendapatan produk berbasis IP turun 12,69 persen.
Yang perlu dicatat, penurunan ini terjadi bukan ketika ekonomi nasional sedang tumbuh negatif, melainkan ketika industri hiburan digital justru berkembang. Ini adalah sinyal yang tidak bisa diabaikan. Ada kemungkinan bahwa apa yang kita saksikan bukan sekadar fluktuasi musiman, melainkan indikasi mulai menurunnya daya tarik bisnis yang fondasinya bertumpu pada figur selebriti.
Ketergantungan terhadap Raffi Ahmad adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia adalah magnet yang tak terbantahkan. Di sisi lain, ia adalah risiko konsentrasi yang sangat tinggi. Perusahaan berbasis figur publik ibarat kerajaan yang berdiri di atas satu menara. Selama menara itu kokoh, kerajaan tampak megah. Namun investor harus bertanya: apa yang terjadi jika menara itu mulai retak? Skandal, kelelahan personal, atau sekadar bergesernya selera publik bisa menjadi retakan yang tak terlihat hingga semuanya terlambat.
Baca juga: RANS Entertainment Milik Raffi-Nagita Gelar IPO, Segini Harga Saham yang Ditawarkan
Valuasi: Murah atau Kemahalan?
Menurut data yang diolah Biro Riset Infobank, dengan laba bersih tahun 2025 sebesar Rp56,69 miliar dan jumlah saham setelah IPO sekitar 12,59 miliar saham. Publik bisa menghitung earnings per share (EPS) sekitar Rp4,5 per saham. Pada harga IPO:
- Rp135 → PER sekitar 30 kali.
- Rp170 → PER sekitar 38 kali.
Sekarang, bandingkan dengan rata-rata PER perusahaan media, hiburan, dan consumer di Bursa Efek Indonesia yang sering kali berada di kisaran belasan hingga dua puluhan. PER 30–38 kali adalah valuasi yang mengasumsikan pertumbuhan laba tinggi di masa depan. Ini adalah harga yang biasa dibayar untuk perusahaan teknologi dengan skala global dan moat yang lebar. Padahal, yang hadapi investor adalah perusahaan yang labanya sedang turun, pendapatannya sedang turun, dan model bisnisnya belum terbukti scalable seperti platform digital murni.
Apakah investor sedang membeli laba yang ada saat ini? Atau membeli harapan bahwa Raffi Ahmad akan terus menjadi magnet bisnis selama bertahun-tahun? Membeli harapan bukanlah dosa dalam investasi. Namun harapan harus dihargai dengan kerendahan hati, bukan dengan PER 38 kali. Seperti kata orang bijak, “Saham adalah klaim atas arus kas masa depan, bukan klaim atas popularitas masa kini.”
Ke Mana Dana IPO Akan Pergi?
Penggunaan dana IPO RANS patut dicermati dengan saksama. Dari total dana yang dihimpun sekitar Rp340,88 miliar dan maksimal Rp429,25 miliar, hanya 6,98 persen untuk membayar utang BNI. Selebihnya: 18,64 persen untuk Cipungland (taman bermain), 37,61 persen untuk konser, 8,15 persen untuk bisnis AI, 19,80 persen untuk akuisisi Rans Kosmetika Indonesia, dan sisanya untuk pengembangan usaha.
Perhatikan bahwa sebagian besar dana tidak mengalir ke aset produktif jangka panjang yang predictable, melainkan ke bisnis-bisnis yang memiliki risiko eksekusi tinggi. Konser sangat bergantung pada daya beli masyarakat yang sedang melemah. Taman bermain membutuhkan investasi besar dengan payback period yang panjang dan belum teruji. Bisnis AI—meski menarik secara narasi—belum jelas monetisasinya. Akuisisi kosmetik memerlukan pembuktian sinergi yang tidak bisa dianggap remeh.
Investor sesungguhnya tidak membeli konser berikutnya. Mereka membeli kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas selama puluhan tahun. Ketika sebagian besar dana digunakan untuk proyek-proyek yang hasilnya belum terlihat, kita sedang berbicara tentang sebuah taruhan besar yang dibiayai oleh uang publik.
Harus diakui, kekuatan RANS tidak terletak pada aset fisik atau laba saat ini. Kekuatan utamanya berada pada personal branding Raffi Ahmad, jaringan bisnis yang luas, basis pengikut digital yang masif, kemampuan monetisasi IP, dan akses terhadap berbagai kolaborasi strategis. Ini adalah ekosistem yang tidak bisa diremehkan.
Namun, pasar modal pada akhirnya menilai perusahaan berdasarkan cash flow, bukan jumlah followers. Pengikut bisa menciptakan perhatian. Tetapi hanya laba dan arus kas yang menciptakan nilai. Sejarah mencatat banyak perusahaan media berbasis figur publik yang gemilang di awal, namun redup ketika perhatian publik bergeser. Ekosistem yang hari ini tampak kokoh bisa menjadi rapuh jika fondasinya hanyalah popularitas yang tidak ditopang oleh model bisnis yang teruji.
Risiko yang Harus Diperhatikan
Investor harus membuka mata terhadap beberapa risiko utama. Pertama, ketergantungan pada figur pendiri yang belum memiliki rencana suksesi yang jelas. Kedua, perlambatan industri endorsement yang mulai menunjukkan kejenuhan. Ketiga, risiko ekspansi ke terlalu banyak sektor sekaligus—konser, taman bermain, AI, kosmetik—yang bisa mengakibatkan fokus terpecah dan eksekusi tidak maksimal. Keempat, risiko valuasi yang terlalu mahal. Pasar sering kali menghargai cerita pada awal IPO, tetapi beberapa bulan kemudian kembali menghargai fundamental. Ketika cerita mulai pudar, yang tersisa adalah angka-angka.
Jadi, IPO RANS adalah pertarungan yang memikat antara ekonomi perhatian dan ekonomi fundamental. Di satu sisi, RANS memiliki merek yang kuat, jaringan yang luas, dan peluang ekspansi yang menggoda imajinasi. Di sisi lain, data berbicara dengan jujur: pendapatan turun, laba turun, valuasi relatif mahal, dan sebagian besar rencana ekspansi masih berupa harapan.
Bursa saham pada akhirnya adalah tempat pertemuan antara mimpi dan angka. Mimpi memberi inspirasi, tetapi angka menentukan harga. Pertanyaan yang harus dijawab investor bukanlah apakah Raffi Ahmad akan tetap populer lima tahun lagi. Banyak teman dari banyak kalangan, termasuk para pemilik uang dan pejabat.
Pertanyaannya adalah apakah laba RANS dapat tumbuh lebih cepat daripada harga yang hari ini yang diminta kepada publik. Pada PER 30–38 kali, pasar seolah berkata: “Kami percaya keajaiban akan terus berlanjut.” Namun seperti yang selalu diajarkan oleh sejarah, keajaiban jarang bertahan lama di pasar modal. Yang abadi hanyalah matematika dan arus kas.
Jadi, harga saham RANS hari ini relatif kemahalan. Lain lagi jika investor membeli popularitas Raffi Ahmad akan terus moncer dalam jangka panjang.


