Poin Penting
- Persaingan ritel Indonesia makin ketat dengan bangkitnya brand lokal yang lebih agresif dan adaptif, menandai pergeseran struktur pasar dari dominasi brand global
- Keunggulan brand lokal terletak pada kedekatan dengan konsumen, kecepatan eksekusi strategi, serta pemahaman karakteristik pasar daerah yang mendorong loyalitas dan distribusi lebih efektif
- Perubahan perilaku konsumen yang mencari nilai lebih dari produk turut memperkuat daya saing brand lokal, menjadi fondasi untuk ekspansi ke pasar global.
Jakarta — Persaingan industri ritel di Indonesia kini memasuki babak baru. Brand global yang sebelumnya mendominasi pasar mulai diimbangi oleh brand lokal yang semakin agresif, adaptif, dan mampu menjawab kebutuhan konsumen dalam negeri.
Menurut Jhonny Thio Doran, founder sekaligus CEO JETE, brand teknologi lokal asal Surabaya, fenomena tersebut bukan sekadar perubahan tren yang sifatnya sementara, tapi ada pergeseran nyata dalam struktur pasar.
Salah satu faktor utama yang membuat brand lokal mampu bersaing, kata dia, adalah adalah kemampuannya menjalin hubungan yang lebih dekat dengan konsumen. Tidak hanya berfokus pada penjualan, brand lokal juga aktif membangun keterlibatan melalui aktivitas yang relevan dengan gaya hidup masyarakat.
“Ketika konsumen merasa jadi bagian dari brand, mereka merasa dihargai bukan hanya sebagai pembeli saja, tapi lebih dari itu jadi bagian kita. Ini akan membuat konsumen lebih loyal dan secara alami ikut mendukung pertumbuhan brand tersebut,” ujar Jhonny Thio Doran dalam keterangan tertulisnya, Senin (4/4).
Baca juga: Pendapatan Cinema XXI (CNMA) Tembus Rp1,1 T di Q1 2026, Ditopang Film Lokal
Selain kedekatan dengan konsumen, kata dia, brand lokal juga memiliki keunggulan dalam hal kecepatan dalam mengeksekusi strategi mereka. Struktur organisasi yang lebih ringkas membuat proses pengambilan keputusan dapat dilakukan lebih cepat.
“Kecepatan itu bukan sekadar soal bergerak lebih cepat dari yang lain. Yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa belajar dari setiap eksekusi yang kita lakukan,” ujarnya.
Faktor lainnya yang menjadi penentu, lanjut dia, adalah kondisi geografis Indonesia yang luas. Brand lokal dinilai lebih memahami karakteristik tiap daerah sehingga mampu membangun jaringan distribusi yang lebih merata.
Perubahan perilaku konsumen pun turut menjadi pendorong meningkatnya daya saing brand lokal. Saat ini, kata dia, konsumen tidak hanya melihat harga barang dan kualitasnya saja, tetapi juga mempertimbangkan nilai dan manfaat dari produk yang digunakan.
“Dalam beberapa waktu belakangan yang saya alami bersama tim di JETE, melihat bahwa konsumen tidak cuma beli produk setelah itu dipakai lalu selesai begitu saja, tapi juga mencari value apa yang bisa dirasakan dalam penggunaan sehari-hari, jika itu sudah mereka temukan dan melekat maka konsumen pun akan loyal ke brand kita dengan sendirinya,” papar Jhonny.
Sebagai bentuk upaya tersebut, kata dia, JETE Indonesia menghadirkan layanan pelanggan yang siaga 24/7 serta proses klaim garansi yang dibuat lebih praktis di berbagai kota, sehingga konsumen bisa merasa lebih tenang saat menggunakan produknya.
Baca juga: Melayani dengan Kearifan Lokal, Bertumbuh di Era Digital
Posisi brand lokal yang semakin kuat di pasar domestik, kata dia, pada akhirnya akan membuka persaingan di pasar global.
“Bagi saya, kekuatan di pasar domestik adalah dasar paling penting sebelum melangkah ke pasar yang lebih luas. Ketika kita sudah memahami pasar lokal dengan baik, mengenali kebutuhan konsumen, dan didukung sistem yang kuat, saat itulah kita siap bersaing di level global dengan keyakinan yang lebih besar.” tutupnya. (*) DW


