Moneter dan Fiskal

Purbaya Pastikan APBN 2026 Belum Direvisi Meski Harga Minyak Naik

Poin Penting

  • Pemerintah belum akan merevisi APBN 2026 meski harga minyak dunia sempat menyentuh USD100 per barel.
  • Rata-rata harga minyak ICP masih sekitar USD68 per barel, di bawah asumsi APBN sebesar USD70.
  • APBN 2026 dirancang defisit untuk memberi ruang pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi.

Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah belum akan merevisi postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 meski harga minyak dunia sempat mengalami kenaikan di tengah ketidakpastian ekonomi global dan konflik Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

“Kemarin. Banyak yang nanya tuh harga minyak sudah USD100 per barel, apakah pemerintah akan segera merubah APBN-nya? Belum karena kalau dari sini sampai kemarin masih USD68. Artinya apa? kita masih bagus fiskalnya,” kata Purbaya dalam APBN KiTa, Rabu, 11 Maret 2026.

Berdasarkan estimasi dari Kementerian Keuangan, realisasi harga minyak mentah (ICP) secara rata-rata year to date hingga Maret 2026 berada di sekitar USD68 per barel.

Purbaya menilai posisi fiskal negara saat ini masih cukup kuat untuk mengantisipasi risiko menahan berbagai tekanan, termasuk kenaikan harga minyak mentah dunia.

“Ini sudah memasukkan kenaikan (minyak mentah) yang USD100, yang sebentar itu ya. Ini masih dibawa sumisi APBN yang ditapkan sebesar USD70 per barel. Karena itu sejauh ini masih terdapat ruang fisikal untuk mengantisipasi risiko kenaikan harga dalam pelaksanaan APBN 2026,” tambahnya.

Baca juga: Trump Akan Longgarkan Sanksi Minyak untuk Tekan Harga Energi Global

Meski demikian, Purbaya tidak menutup kemungkinan pemerintah akan melakukan penyesuaian kebijakan fiskal apabila tekanan global terus berlanjut.

“Nanti kalau ke depan keadaan menekan lagi, kita akan tentunya mengatur APBN, tapi kita semua dalam berawal dari posisi yang kuat APBN-nya, jadi teman-teman gak usah khawatir,” katanya lagi.

Purbaya menjelaskan APBN 2026 memang dirancang dengan skema defisit agar pemerintah memiliki ruang fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: Purbaya Lapor Defisit APBN Tembus Rp135,7 Triliun di Februari 2026

Pada tahun ini, pemerintah juga mempercepat realisasi belanja negara sejak awal tahun agar dampaknya terhadap masyarakat dan dunia usaha dapat lebih cepat dirasakan.

“Memang APBN didesain untuk defisit. Sekarang kami mendorong belanja lebih merata sepanjang tahun supaya dampak belanja pemerintah terhadap perekonomian lebih terasa,” imbuhnya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Kemenkeu Sudah Cairkan THR ASN dan TNI-Polri Rp24,7 Triliun

Poin Penting Kemenkeu telah menyalurkan THR ASN dan TNI-Polri Rp24,7 triliun per 10 Maret 2026.… Read More

41 mins ago

Visa Gandeng Skorcard untuk Perluas Inklusi dan Akses Kredit di Indonesia

Poin Penting Visa dan Skorcard menjalin kerja sama strategis untuk memperluas akses kredit dan inklusi… Read More

1 hour ago

Seleksi Bos OJK, Dicky Kartikoyono Tawarkan Strategi Perkuat Pembiayaan Ekonomi

Poin Penting Dicky Kartikoyono menilai stabilitas sektor keuangan Indonesia cukup baik, namun kontribusinya terhadap pertumbuhan… Read More

2 hours ago

Hernawan Bekti Sasongko Incar Kursi Wakil Ketua OJK, Ini Strateginya

Poin Penting Hernawan Bekti Sasongko maju sebagai calon Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK dan mengikuti… Read More

2 hours ago

Analis Elev8: Dua Risiko Utama Bayangi Ekonomi China, ASEAN Harus Waspadai Imbasnya

Poin Penting Krisis properti dan kelebihan kapasitas industri China menjadi dua risiko utama yang dapat… Read More

2 hours ago

Komisaris Danantara Calon Bos OJK Beberkan 7 Pilar Penguatan Pengawasan Keuangan

Poin Penting Agus Sugiarto memaparkan tujuh pilar penguatan OJK saat mengikuti fit and proper test… Read More

2 hours ago