Poin Penting
- Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menduga rumor penurunan peringkat kredit Indonesia oleh S&P memicu kejatuhan IHSG pada awal Juli.
- Rumor yang beredar di media sosial menyebut S&P akan menurunkan peringkat kredit Indonesia.
- S&P akhirnya mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan prospek stabil.
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menduga rumor terkait penurunan peringkat kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings menjadi salah satu pemicu anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal Juli 2026.
Purbaya mengatakan rumor tersebut beredar luas di media sosial dan memicu sentimen negatif di pasar saham domestik. Padahal, saat rumor beredar, S&P belum secara resmi mengumumkan hasil pemeringkatan Indonesia,
“Ada isu itu di capital market, di social media, yang bilang bocoran S&P keluar Indonesia akan di-downgrade peringkatnya. Bahkan bukan outlook-nya, peringkatnya. Itu yang menarik ke bawah pasar saham secara tajam di awal Juli tahun ini,” katanya dalam konferensi pers APBN KiTa, Selasa, 21 Juli 2026.
Baca juga: Rating S&P Beri Angin Segar, tapi Ujian Pasar Keuangan RI Belum Usai
S&P Pertahankan Rating Indonesia
Rumor tersebut akhirnya tidak terbukti. Dalam laporan terbarunya, S&P tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil.
Purbaya pun menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya penyebaran rumor yang tidak bertanggung jawab dan berpotensi memengaruhi pergerakan pasar.
“Ternyata emang banyak permainan rumors yang gak jelas, yang ditiupkan oleh orang-orang yang kurang bertanggung jawab,” ujarnya.
Baca juga: IHSG Sepekan Melonjak 4,24 Persen, Saham Bank Himbara Kompak Menguat
Purbaya Nilai Ekonomi Indonesia Bergerak ke Arah Positif
Menurut Purbaya, keputusan S&P mempertahankan peringkat Indonesia menunjukkan bahwa kinerja pemerintah dinilai bergerak ke arah yang positif.
Ia menilai kebijakan pemerintah mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang kuat dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan fiskal.
“Artinya memang mereka melihat ke apa yang dikejakan oleh pemerintah di bawah pimpinan Bapak Presiden Prabowo Subianto, itu semuanya bergerak ke arah yang benar dengan dampak kepertumbuhan yang kuat tanpa mengabaikan kehati-hatian pelaksanaan kebijakan fiskal,” imbuh Purbaya. (*)
Editor: Yulian Saputra


