Puasa, Permintaan LPG di KTI Melonjak

Puasa, Permintaan LPG di KTI Melonjak

Penyesuian Harga Komoditas Energi Bikin Jakarta Deflasi
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta — Meemasuki minggu pertama bulan puasa, Kawasan Indonesia Timur (KTI) telah menunjukkan tanda-tanda kelangkaan Liquefied Petroleum Gas (LPG/elpiji). Melihat hal ini, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) meminta PT Pertamina menambah pasokan LPG  di KTI.

“Kelangkaan LPG mulai terasa. Ada laporan dari beberapa daerah, misalnya di Sulawesi, LPG mulai langka,” ujar  Wakil Ketua Umum Kadin Kawasan Timur Indonesia, Andi Rukman, di Jakarta, 12 Juni 2016.

Kelangkaan LPG ini, menurut Andi, disebabkan oleh meningkatnya permintaan industri kecil dan menengah, maupun konsumsi rumah tangga di bulan puasa. Adapun kenaikan akan permintaan LPG di bulan puasa ini mencapai 40% dibandingkan dengan hari biasa. Di satu sisi, pasokan dari Pertamina tak mampu memenuhinya.

“Tidak singkron antara permintaan dan pasokan. Soal harga, juga bisa melambung. Tapi yang penting pasokan untuk industri kecil dan menengah ini tetap tersedia,” ujar Andi.

Minimnya pasokan ini ditengerai lagi-lagi karena terhambatnya jalur distribusi. Menurut Andi, jaringan distribusi LPG ke KTI memang masih sangat minim. Kondisi alam yang berat, rusaknya infrastruktur, ikut menghambat pasokan LPG ke masyarakat. Karenanya, Kadin berharap, pemerintah melibatkan pihak swasta dalam mempercepat pembangunan infrastruktur LPG di KTI.

Target serapan elpiji tahun ini mencapai 6,6 juta metrikton, meningkat dari alokasi elpiji 3 kg dalam APBN 2015 (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) sebanyak 5,76 juta ton. Peningkatan serapan elpiji disebabkan jumlah penduduk yang terus bertambah. Pertumbuhan penduduk mencapai 1,49%. Sementara, anggaran alokasi subsidi untuk elpiji 3 kg pada 2013 mencapai Rp 40,3 triliun. Adapun, pada 2014 tercatat sebanyak Rp 47,7 triliun.

Kadin berharap agar penyaluran elpiji, utamanya tabung 3 kilogram (kg), terus diperluas ke wilayah timur Indonesia. Perluasan ini untuk mendorong program konversi bahan bakar minyak (BBM) ke gas. “Misalnya, ke pedalaman Sulawesi, Maluku, Papua, hingga Nusa Tenggara. Bahkan di pesisir pun sangat langka,” ujar Andi.  (*)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]