Poin Penting
- PT IIM memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2% pada 2026, ditopang konsumsi domestik, inflasi terkendali, serta dukungan kebijakan fiskal dan moneter.
- Obligasi pemerintah tetap atraktif di tengah volatilitas global, didukung likuiditas domestik yang kuat dan dominasi investor lokal pada SBN.
- Reksa dana saham dinilai prospektif pada 2026, seiring potensi pelonggaran likuiditas global dan valuasi pasar saham yang masih menarik.
akarta – PT Insight Investments Management (PT IIM) menilai tahun 2026 akan menjadi periode yang menantang sekaligus penuh peluang bagi investor, di tengah ketidakpastian global dan penguatan fundamental ekonomi domestik.
Secara global, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan stagnan di kisaran 3,2 persen sejak 2023 hingga 2026.
Ketegangan geopolitik, perang dagang, krisis iklim, serta dampak lanjutan pandemi masih menekan prospek ekonomi global.
Amerika Serikat dan Eropa menunjukkan ketahanan relatif baik. Pertumbuhan ekonomi AS diproyeksikan sekitar 2% pada 2025 dan melambat menjadi 1,7% akibat dampak lanjutan kebijakan tarif proteksionis.
“Kebijakan tarif Amerika Serikat yang bersifat proteksionis justru meningkatkan ketidakpastian global dan berpotensi berpengaruh negatif terhadap Amerika Serikat sendiri. Dampaknya terhadap aktivitas bisnis dan investasi baru akan semakin terasa ke depan,” jelas Direktur PT IIM Camar Remoa.
Baca juga: IKA UNPAD Global Outlook 2025 Ungkap Peta Kekuatan Baru Dunia: Amerika Tak Lagi Dominan?
Di sisi lain, negara berkembang tetap menjadi motor pertumbuhan global. India mencatatkan pertumbuhan tertinggi, disusul China dan Indonesia.
Pada paruh pertama 2025, pertumbuhan global bahkan lebih tangguh dari perkiraan, didorong investasi AI di AS, front-loading perdagangan menjelang tarif, serta stimulus fiskal China.
Outlook Nasional: Ekonomi Indonesia Kian Solid
Memasuki 2026, PT IIM memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi mencapai 5,2 persen, ditopang oleh penguatan permintaan domestik dan stabilitas makroekonomi.
Konsumsi rumah tangga menunjukkan tren menguat, tecermin dari Consumer Confidence Index (CCI) November 2025 yang berada di level 124. Tren penurunan suku bunga turut mendorong peningkatan belanja masyarakat.
Pemerintah juga memberikan stimulus melalui Economic Acceleration Package senilai Rp16 triliun yang mulai berdampak pada pemulihan daya beli pada paruh kedua 2025. Inflasi tetap terkendali di bawah 3 persen, sejalan dengan target Bank Indonesia.
“Pemulihan ekonomi domestik mulai terlihat lebih merata. Kepercayaan konsumen yang membaik, inflasi yang terkendali, serta dukungan kebijakan moneter dan fiskal menjadi kombinasi positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” jelas Camar.
Baca juga: Defisit APBN Tembus 2,92 Persen, Airlangga: Masih Aman
Dari sisi fiskal, defisit diproyeksikan tetap terjaga di bawah 3 persen PDB. Belanja pemerintah 2026 diperkirakan meningkat, dengan fokus pada program prioritas nasional, termasuk sektor sosial, pangan, dan infrastruktur. Investasi juga diperkirakan membaik, tercermin dari PMI yang konsisten berada di level ekspansif.
Obligasi Tetap Menarik di Tengah Volatilitas
Hingga akhir September 2025, pemerintah telah menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp710,55 triliun atau sekitar 79 persen dari target tahun berjalan. Dengan sisa penerbitan sekitar Rp180 triliun pada kuartal IV, target tersebut dinilai masih terkendali.
Kepemilikan SBN masih didominasi investor domestik, mencerminkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas obligasi pemerintah.
“Tingginya likuiditas domestik serta pergeseran alokasi dari SRBI ke SBN menunjukkan bahwa obligasi pemerintah masih menjadi instrumen utama bagi investor dalam menjaga stabilitas portofolio di tengah volatilitas global,” kata Camar.
Baca juga: Investor Simak! Ini Sektor yang Diproyeksi Moncer di Tahun Kuda Api
Volume obligasi jatuh tempo sekitar Rp218,9 triliun pada Oktober 2025 diperkirakan akan kembali mengalir ke SBN maupun obligasi korporasi yang masih menawarkan imbal hasil menarik.
Pasar Saham: Volatil, Namun Berpeluang
Sepanjang 2025, pasar saham domestik bergerak volatil. Arus dana asing sempat mencatatkan outflow hingga Rp54 triliun pada September, namun berbalik inflow sekitar Rp25 triliun pada Oktober-November 2025.
Secara kinerja, laba emiten IHSG terkontraksi sekitar 9 persen sepanjang sembilan bulan pertama 2025. Namun IHSG justru mencatat penguatan signifikan.
“Hingga penutupan Desember 2025, IHSG tercatat mengalami kenaikan 22,1% ke level 8.646, di mana penguatan tersebut terutama didorong oleh saham-saham konglomerasi seperti DSSA, DCII, BRPT, TLKM, ASII, dan BRMS.
Sementara itu, saham-saham big cap tradisional, khususnya perbankan, seperti yang mendominasi indeks LQ45 naik sebesar 2,41% dan SRI Kehati sebesar 2,02%,” ujar Camar.
Strategi Investasi Reksa Dana 2026
Camar menilai 2026 dapat menjadi momentum bagi investor untuk kembali fokus pada peluang pertumbuhan di pasar saham, seiring pemulihan daya beli masyarakat dan potensi pelonggaran likuiditas global.
Reksa dana saham dinilai semakin atraktif karena valuasi indeks masih di bawah rata-rata historis lima tahun serta didukung dividend yield yang relatif tinggi. Reksa Dana Insight SRI-Kehati Likuid (I-SRI Likuid) dinilai cocok bagi investor agresif karena berisi saham likuid dan berdividen menarik.
Bagi investor dengan pendekatan conviction-based investing, Insight Wealth menjadi alternatif dengan pengelolaan saham yang aktif.
“Dua reksa dana saham ini memiliki jejak kinerja yang kompetitif terhadap benchmark. Sehingga diharapkan mampu memanfaatkan peluang pemulihan pasar saham secara lebih terukur,” jelas Camar.
Meski demikian, strategi diversifikasi tetap menjadi kunci. Reksa dana pasar uang seperti I-Money dan I-Mosy dinilai relevan untuk menjaga likuiditas dan stabilitas portofolio. (*)










