Poin Penting
- PSEL Kota Bekasi menelan investasi sekitar Rp3 triliun.
- Proyek ini diproyeksikan mengolah lebih dari 500.000 ton sampah per tahun.
- PSEL berkapasitas 27,4 MW dan menghasilkan listrik setara kebutuhan sekitar 55.000 rumah tangga.
Jakarta – PT PLN (Persero) mendukung pembangunan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Kota Bekasi, Jawa Barat. Proyek senilai sekitar Rp3 triliun tersebut diproyeksikan mengolah lebih dari 500.000 ton sampah per tahun sekaligus menghasilkan energi listrik bagi masyarakat.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Sponsors Agreement dan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) dalam agenda Peresmian Pembangunan PSEL Kota Bekasi pada Rabu (26/8).
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan mengatakan selama ini pengembangan PSEL menghadapi berbagai hambatan regulasi dan perizinan.
Kondisi tersebut membuat pengembangan proyek waste to energy berjalan lambat, padahal persoalan sampah terus menjadi tantangan di berbagai daerah.
“Kalau sampah saja kita tidak bisa urus, bagaimana kita mengurus yang lebih besar. Itu perintah Pak Presiden. Aturan mengenai pengelolaan sampah ini, waste to energy, ratusan lebih aturannya. Oleh karena itu, 11 tahun hanya ada dua (proyek). Satu tidak jalan, satu hidup mati-hidup mati. Hampir tidak bisa jalan karena rumit dan ruwet. Nah ini kita rapihkan. Dari sini tinggal tiga (aturan),” ujar Zulkifli, dikutip Jumat, 28 Agustus 2026.
Baca juga: PLN Pulihkan 100 Persen Listrik Flores Pascagempa M7,7
Menurut Zulkifli, percepatan penanganan sampah membutuhkan kolaborasi seluruh pihak. Pihaknya terus mengawal pelaksanaan program dan menyelesaikan berbagai hambatan yang muncul, sementara pembangunan dan proses bisnis dijalankan oleh para pihak terkait sesuai perannya masing-masing.
Olah 70 Persen Sampah Kota Bekasi
Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir mengatakan bahwa pembangunan PSEL Kota Bekasi merupakan bagian dari percepatan penanganan persoalan sampah melalui kolaborasi berbagai pihak.
“Peresmian Pembangunan PSEL hari ini menandai hadirnya solusi nyata untuk menjawab tantangan darurat sampah di Indonesia dan secara terkhusus di kota Bekasi. PSEL Kota Bekasi juga diharapkan dapat menciptakan nilai lingkungan, energi, dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Inisiatif ini diharapkan menghasilkan hampir 1.000 lapangan kerja hijau dan menyediakan energi bersih bagi puluhan ribu rumah tangga.
Pandu merinci, PSEL Kota Bekasi diproyeksikan mampu menangani lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun atau sekitar 70 persen timbulan sampah terolah di Kota Bekasi.
Baca juga: Amankan Listrik HUT ke-81 RI, PLN Kerahkan 45 Ribu Personel dan Siapkan Cadangan 9 GW
Proyek dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun ini juga diproyeksikan dapat mengurangi emisi karbon sekitar 640 ribu ton setara CO₂ per tahun, mengurangi kebutuhan lahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sekitar 90 persen, serta menciptakan sekitar 1.000 lapangan kerja hijau.
Hasilkan 223.584 MWh Listrik per Tahun
Dari sisi energi, PSEL Kota Bekasi memiliki kapasitas netto 27,4 MW. Fasilitas ini diproyeksikan menghasilkan sekitar 223.584 megawatt hour (MWh) listrik per tahun.
Dengan asumsi konsumsi rata-rata pelanggan rumah tangga berdaya 450 volt ampere (VA), jumlah tersebut setara dengan kebutuhan listrik sekitar 55 ribu rumah tangga.
Sementara itu, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menjelaskan bahwa pihaknya menyiapkan energi listrik yang dihasilkan oleh PSEL Kota Bekasi dapat dimanfaatkan kembali untuk memenuhi kebutuhan listrik di wilayah tersebut.
Dengan demikian, sampah yang ditangani melalui PSEL tidak hanya membantu mengurangi persoalan lingkungan, tetapi juga menghasilkan energi yang dapat kembali dimanfaatkan masyarakat setempat.
“Demand listrik di Bekasi cukup tinggi. Maka, kita mendedikasikan listrik dari PSEL Bekasi ini untuk masyarakat Bekasi. Jadi, sampah Kota Bekasi masuk ke sini (PSEL), kemudian listrik yang dihasilkan kita pasok kembali ke Kota Bekasi,” ujar Darmawan.
Darmawan menegaskan, tujuan utama pembangunan PSEL adalah menghadirkan lingkungan yang lebih bersih melalui penanganan sampah. Sementara itu, listrik hanya menjadi salah satu produk yang turut dihasilkan dari proses tersebut.
“Jadi, produk utamanya bukan listrik, tapi produk utamanya adalah lingkungan yang bersih. Listrik hanyalah by-product dari program ini,” tutup Darmawan. (*)
Editor: Yulian Saputra


