Poin Penting
- Prudential Syariah mencatat APE tertinggi sepanjang sejarah sebesar Rp1 triliun pada 2025, dengan aset tumbuh 20 persen menjadi Rp8 triliun dan pembayaran klaim Rp2,2 triliun
- Di saat industri asuransi umum terkontraksi, asuransi syariah justru tumbuh 13 persen, sementara Prudential Syariah melonjak hingga 38 persen
- Perubahan signifikan terlihat pada minat agen yang kini aktif memasarkan produk syariah. Pertumbuhan industri turut ditopang regulasi, kebijakan spin-off, serta lonjakan literasi keuangan syariah.
Jakarta — PT Prudential Sharia Life Assurance (Prudential Syariah) mencatatkan kinerja solid sepanjang 2025, di tengah tekanan pada industri asuransi secara umum. Perseroan membukukan pertumbuhan signifikan yang sekaligus mencerminkan percepatan perkembangan industri asuransi syariah di Indonesia.
Presiden Direktur Prudential Syariah, Iskandar Ezzahuddin Ahmad Zulkiflee mengungkapkan bahwa perusahaan berhasil mencatatkan Annualized Premium Equivalent (APE) tertinggi sepanjang sejarah, mencapai Rp1 triliun pada 2025.
Selain itu, total aset perusahaan tumbuh sekitar 20 persen secara tahunan menjadi Rp8 triliun. Dari sisi layanan, Prudential Syariah juga telah membayarkan klaim sebesar Rp2,2 triliun kepada nasabah.
“Capaian ini menempatkan kami pada posisi market leader dengan pangsa pasar sekitar 22 persen di industri asuransi syariah,” ujar Iskandar, Jumat, 22 April 2026.
Baca juga: Prudential dan EMC Healthcare Hadirkan PRUHealth Friend
Tak hanya dari sisi finansial, Prudential Syariah juga mencatatkan kinerja positif dalam aspek non-keuangan, termasuk peringkat pertama dalam kepuasan pelanggan dan preferensi merek di segmen asuransi syariah.
Sementara itu, kinerja Prudential Syariah sejalan dengan tren industri yang menunjukkan pergeseran signifikan. Di saat industri asuransi secara keseluruhan mengalami kontraksi sekitar 5 persen, segmen asuransi syariah justru mencatatkan pertumbuhan sekitar 13 persen. Sebaliknya, asuransi konvensional masih mengalami tekanan dengan penurunan sekitar 6 persen.
“Ini menunjukkan bahwa pasar syariah bukan lagi sekadar potensi, tetapi sudah menjadi realitas yang tumbuh sangat cepat,” katanya.
Ia menambahkan, pertumbuhan Prudential Syariah bahkan melampaui rata-rata industri, dengan lonjakan sekitar 38 persen secara tahunan. Menurut Iskandar, dalam dua tahun terakhir terjadi perubahan besar dalam industri asuransi syariah, terutama dari sisi persepsi dan penerimaan masyarakat.
Jika sebelumnya produk syariah kerap dipertanyakan dari sisi keaslian dan konsepnya, kini tingkat kepercayaan publik meningkat signifikan. Masyarakat mulai memahami bahwa asuransi syariah merupakan model yang berbeda, bukan sekadar versi lain dari asuransi konvensional. Peningkatan literasi ini turut mendorong lonjakan minat terhadap produk-produk berbasis syariah.
Perilaku Agen Berubah Drastis
Perubahan paling nyata terlihat pada perilaku agen pemasaran. Dengan sekitar 65.000 tenaga agen, Prudential Syariah melihat transformasi yang cukup drastis di lapangan.
“Dulu, ketika kami membahas produk syariah, banyak agen yang kurang tertarik. Bahkan saat sesi presentasi, sebagian peserta memilih keluar,” ujar Iskandar.
Namun kondisi tersebut kini berbalik. Agen Prudential Syariah, termasuk yang non-Muslim, justru aktif mendorong pengembangan produk syariah.
“Mereka sekarang yang datang kepada kami, meminta produk baru, meminta kampanye baru. Ini menunjukkan bahwa permintaan pasar memang sudah berubah,” ungkapnya.
Perubahan perilaku agen ini dinilai menjadi indikator kuat bahwa pasar asuransi syariah telah berkembang secara organik.
Baca juga: Gandeng UOB Indonesia, Prudential Indonesia Hadirkan Asuransi Jiwa Berbasis Dolar AS
Iskandar menilai pertumbuhan industri juga didukung oleh sejumlah faktor struktural, mulai dari kebijakan spin-off unit syariah, penguatan regulasi, hingga dukungan pemerintah dalam mendorong ekonomi syariah nasional.
Selain itu, peningkatan literasi keuangan syariah yang signifikan dari sekitar 9 persen pada 2023 menjadi 45 persen saat ini, menjadi katalis penting dalam mempercepat adopsi.
Dengan berbagai faktor tersebut, Iskandar optimistis Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat keuangan syariah global dalam beberapa tahun ke depan.
“Dalam tiga hingga lima tahun ke depan, kami melihat pertumbuhan asuransi syariah akan jauh lebih cepat. Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga bisa menjadi acuan global,” pungkasnya. (*) Ayu Utami








