Dihubungi terpisah, pengamat kebijakan publik Agus Pambagyo menyatakan, pemindahan ibu kota memang memberi dampak yang beragam. Ia mengkhawatirkan dengan bergulirnya isu ini penguasaan lahan oleh para makelar tanah pun akan merajalela.
“Ini wacana sudah lama, sudah jaman Soekarno mau dipindah dipindah tidak jadi, juga pada jaman SBY mau dipindah ke Jonggol. Nah ketika Jonggol mau dijadikan ibu kota semua tanah di Jonggol dibeli makelar tanah, sehingga harga tanah mahal,” jelas Agus kepada Infobank Rabu, 5 Juli 2017.
Baca juga: Pemindahan Ibu Kota Diklaim dapat Kurangi Kesenjangan
Dia pun mempertanyakan, jika lahan yang digunakan adalah Kalimantan yang sebagian besar untuk perkebunan, tentu ini akan menjadi pertimbangan khusus bagi pemerintah. “Di Kalimantan itu kan isinya kalau enggak kebun sawit, tambang, hutan. Dan mau diapakan itu?” katanya.
Ia juga mengungkapkan, bila perpindahan ibu kota ini terjadi, tentu akan berdampak positif yaitu pemerataan daerah luar Pulau Jawa. (*)
Editor: Paulus Yoga
Page: 1 2
Poin Penting Purbaya Yudhi Sadewa menilai penurunan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s hanya bersifat… Read More
Poin Penting WHO mencatat 74 persen kematian global disebabkan penyakit tidak menular, dengan 17 juta… Read More
Poin Penting IHSG ditutup melemah 2,08 persen ke level 7.935,26. Sebanyak 646 saham terkoreksi, dengan… Read More
Poin Penting BSI membukukan laba bersih Rp7,57 triliun sepanjang 2025, naik 8,02 persen yoy, ditopang… Read More
Poin Penting BSI mencatat pertumbuhan lebih dari dua juta nasabah baru sepanjang 2025, didorong minat… Read More
Poin Penting Standard Chartered mendorong portofolio yang disiplin, terstruktur (core, tactical, opportunistic), dan terdiversifikasi lintas… Read More