Jakarta – Bank Syariah Indonesia (BSI) mencatat pertumbuhan yang signifikan pada transaksi mobile bankingnya, kurang lebih hingga 3 kali lipat. Wakil Direktur Utama 2 BSI Abdullah Firman Wibowo mengungkapkan, salah satu alasan pertumbuhan ini adalah proses merger yang dilakukan tiga bank BUMN Syariah tersebut.
Firman menyebut, proses merger BSI mengharuskan nasabah melakukan migrasi rekening melalui dua cara. Cara pertama adalah dengan datang ke kantor cabang dan cara kedua adalah melalui mobile banking. Kondisi pandemi dan migrasi nasabah menciptakan kesempatan bagi BSI untuk memperkenalkan layanan digitalnya ke setiap nasabah.
“Kondisi ini ternyata menguntungkan kita. Artinya dengan adanya migrasi, yang tadinya tidak mengenal atau belum menggunakan fasilitas mobile banking, mau tidak mau jadi mengenal. Hal ini bisa dilihat dari angka register yang naik dan active mobilenya juga meningkat,” jelas Firman secara virtual, Jumat, 20 Agustus 2021.
Ia optimis peningkatan penggunaan digital banking akan berdampak signifikan pada bisnis BSI. Semakin banyaknya registrasi dan aktivasi mobile banking akan menambah jumlah fee based income dan mendorong kinerja bank syariah terbesar ini menjadi lebih baik.
Dengan demikian, bisnis BSI akan mampu semakin kuat dan menunjukkan pertumbuhan baik ke depannya. “Kejadian ini tentunya menambah semangat kita ke depan,” ujar Firman. (*)
Editor: Rezkiana Np
Oleh A.Y. Eka Putra, Pemerhati Ekonomi dan Perbankan PENEGAKAN hukum tindak pidana korupsi di sektor… Read More
Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More
Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More
Poin Penting Avrist pindah kantor pusat ke Wisma 46 untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Target pertumbuhan… Read More
Poin Penting Penempatan dana Rp276 triliun di bank pelat merah dinilai tidak signifikan mendorong perekonomian,… Read More