Mojtaba Khamenei resmi ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran. (Foto: Wikipedia)
Poin Penting
Jakarta – Nama Mojtaba Khamenei kini menjadi sorotan setelah ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru. Penunjukan Mojtaba Khamenei dilakukan oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts) untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, di tengah situasi konflik yang memanas.
Sosok Mojtaba Khamenei juga menjadi perhatian karena kehilangan ayah, ibu, dan istrinya akibat serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Baca juga: Perang Iran-AS Picu Bank Global Tunda Perjalanan hingga IPO
Penetapan Mojtaba Khamenei diumumkan melalui pernyataan resmi yang dibacakan oleh penyiar televisi nasional Iran. Dalam pernyataan tersebut, Majelis Ahli menegaskan bahwa proses penunjukan pemimpin tertinggi tetap berjalan meski negara berada dalam kondisi perang dan menghadapi ancaman militer.
Majelis Ahli juga menyampaikan bahwa serangan bom terhadap kantor sekretariat lembaga tersebut—yang menewaskan sejumlah staf dan anggota tim keamanan—tidak menghentikan proses pemilihan pemimpin baru.
Penunjukan Mojtaba Khamenei turut mendapat dukungan dari Korps Garda Revolusi Iran/Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Pernyataan dukungan itu disiarkan oleh televisi nasional IRIB dan kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan IRGC.
Dalam pernyataannya, IRGC menyebut Mojtaba Khamenei sebagai "ahli hukum yang mumpuni, pemikir muda, dan sosok paling memahami isu-isu politik serta sosial."
Baca juga: Kekayaan Pemimpin Iran Ali Khamenei Disorot, Disebut Setara Pendapatan Indonesia 2024
IRGC juga menyampaikan "rasa hormat, pengabdian, dan ketaatan" kepada Mojtaba Khamenei serta menegaskan bahwa para anggotanya "siap untuk patuh sepenuhnya dan berkorban demi menjalankan perintah ilahi Pemimpin Tertinggi."
Berbeda dengan ayahnya, Mojtaba Khamenei dikenal sebagai figur yang jarang tampil di publik. Ia tidak pernah menduduki jabatan pemerintahan, jarang berpidato, dan hampir tidak pernah memberikan wawancara.
Meski demikian, pengaruh Mojtaba Khamenei disebut telah lama terasa di lingkaran kekuasaan Iran. Sejumlah laporan diplomatik AS yang dibocorkan oleh WikiLeaks bahkan menggambarkannya sebagai "kekuatan di balik jubah."
Baca juga: Trading Halt IHSG Bayangi Bursa Asia, BI Sebut Koreksi Imbas Perang Israel-AS vs Iran
Sementara itu, kantor berita Associated Press menyebutnya sebagai figur yang dianggap "pemimpin tangguh dan cakap" di dalam rezim Iran.
Namun, terpilihnya Mojtaba Khamenei memicu perdebatan. Republik Islam Iran yang lahir dari revolusi 1979 menolak konsep monarki, sehingga pemimpin tertinggi seharusnya dipilih berdasarkan kapasitas religius dan rekam jejak kepemimpinan, bukan garis keturunan.
Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, Iran. Ia merupakan anak kedua dari enam bersaudara dalam keluarga Khamenei.
Pendidikan menengahnya ditempuh di Sekolah Alavi di Teheran. Pada usia 17 tahun, Mojtaba sempat beberapa kali bertugas di militer selama Perang Iran-Irak.
Pada 1999, Mojtaba melanjutkan studi agama di kota suci Qom, salah satu pusat teologi Syiah. Pada periode inilah ia mulai mengenakan pakaian ulama, meski keputusan menekuni studi keagamaan pada usia 30 tahun dinilai tidak lazim.
Baca juga: Prasasti: Konflik AS-Iran jadi Momentum Investor Borong Aset Keuangan
Sebelum diangkat sebagai pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei masih dikenal sebagai ulama tingkat menengah. Namun belakangan sejumlah media di Iran mulai menyebutnya dengan gelar Ayatollah untuk memperkuat legitimasi religiusnya.
Nama Mojtaba Khamenei pertama kali mencuat dalam politik Iran pada pemilihan presiden 2005 yang dimenangkan Mahmoud Ahmadinejad.
Dalam surat terbuka kepada Ali Khamenei, kandidat reformis Mehdi Karroubi menuduh Mojtaba ikut campur dalam proses pemilu melalui jaringan IRGC dan milisi Basij.
Empat tahun kemudian, kontroversi kembali mencuat saat pemilihan ulang Ahmadinejad pada 2009 memicu demonstrasi besar yang dikenal sebagai Gerakan Hijau.
Kala itu, mantan wakil menteri dalam negeri Mostafa Tajzadeh menyebut hasil pemilu sebagai "kudeta elektoral." Ia kemudian dipenjara selama tujuh tahun yang menurutnya terjadi atas "kehendak langsung Mojtaba Khamenei."
Dua kandidat reformis lainnya, Mir-Hossein Mousavi dan Mehdi Karroubi, kemudian dijatuhi hukuman tahanan rumah setelah pemilu 2009.
Baca juga: Prabowo Bahas Perang Iran Bareng SBY dan Jokowi: Indonesia Harus Siap
Banyak pengamat memperkirakan Mojtaba Khamenei akan melanjutkan garis kebijakan ayahnya terhadap Barat. Apalagi ia kini memimpin Iran setelah kehilangan ayah, ibu, dan istrinya akibat serangan militer AS dan Israel. Kecil kemungkinan Mojtaba akan tunduk pada tekanan Barat.
Namun tantangan besar menantinya. Mojtaba Khamenei harus memastikan stabilitas Republik Islam Iran sekaligus meyakinkan publik bahwa kepemimpinannya sah dan bukan bagian dari sistem turun-temurun.
Selain itu, ancaman keamanan juga membayangi. Menteri Pertahanan Israel sebelumnya menyatakan bahwa siapa pun pengganti Khamenei akan menjadi sasaran untuk dieliminasi.
“Setiap pemimpin yang dipilih oleh rezim Iran untuk melanjutkan rencana penghancuran Israel, mengancam Amerika Serikat, dunia bebas dan negara-negara di kawasan, serta menindas rakyat Iran, akan menjadi target pasti untuk dibunuh, apa pun namanya dan di mana pun ia bersembunyi,” kata Kepala Pertahanan Israel, Israel Katz melalui platform media sosial X. (*)
Editor: Yulian Saputra
Page: 1 2
Poin Penting MNC Life fokus pertumbuhan berkualitas dengan menyeimbangkan ekspansi bisnis, kualitas investasi, dan manajemen… Read More
Poin Penting BBNI setuju melakukan buyback saham Rp905,48 miliaruntuk stabilisasi harga dan fleksibilitas modal Saham… Read More
Jakarta - PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) menggelar kegiatan buka puasa bersama dengan… Read More
Poin Penting BEI luncurkan IDX Mobile Sharia untuk memudahkan masyarakat belajar dan berinvestasi di pasar… Read More
Poin Penting: Longsor gunungan sampah di Bantargebang menewaskan empat orang dan kembali menyoroti krisis pengelolaan… Read More
Poin Penting IHSG ditutup melemah 3,27 persen ke level 7.337 pada perdagangan 9 Maret 2026.… Read More