Poin Penting:
- Nanik S. Deyang resmi ditunjuk Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala BGN menggantikan Dadan Hindayana.
- Nanik merupakan lulusan S1 Biologi Universitas Jenderal Soedirman dan S2 Kehutanan Universitas Gadjah Mada.
- Berdasarkan LHKPN, total kekayaan Nanik sekitar Rp6,3 miliar dengan aset terbesar berupa tanah dan bangunan serta tanpa tercatat memiliki utang.
Jakarta – Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Nanik S. Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menggantikan Dadan Hindayana. Pelantikan pimpinan lembaga yang mengelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut dilaksanakan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (8/6/2026).
Penunjukan Nanik menjadi sorotan karena ia sebelumnya menjabat Wakil Kepala BGN dan telah terlibat langsung dalam pengawasan pelaksanaan MBG di berbagai daerah.
Nanik bukan sosok baru dalam lingkaran pemerintahan Presiden Prabowo. Sebelum masuk BGN, ia dipercaya menjadi Wakil I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) periode 2024–2029. Ia juga sempat menjabat Komisaris Independen PT Pertamina (Persero) sebelum kemudian bergabung dalam jajaran pimpinan BGN pada September 2025.
Penunjukan Nanik dinilai sebagai upaya menjaga kesinambungan program MBG sekaligus memperkuat tata kelola lembaga. Dengan pengalaman sebagai wakil kepala, ia dianggap telah memahami tantangan operasional BGN mulai dari distribusi makanan bergizi, pengawasan dapur MBG, hingga koordinasi dengan pemerintah daerah.
Baca juga: Prabowo Lantik Kepala BGN Nanik S Deyang dan Penasihat Khusus Presiden Said Iqbal Sore Ini
Nanik, Alumni Biologi Unsoed dan Magister Kehutanan UGM
Nanik S. Deyang lahir di Madiun, Jawa Timur, pada 3 Januari 1968. Di balik kiprahnya di dunia politik dan pemerintahan, ia memiliki latar belakang pendidikan sains yang cukup kuat.
Nanik merupakan lulusan Program Sarjana Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto. Ia kemudian melanjutkan pendidikan magister di bidang Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam sejumlah kesempatan, Nanik bahkan menegaskan bahwa dirinya merupakan sarjana Biologi, bukan sarjana Kehutanan seperti yang sempat banyak diberitakan.
Latar belakang akademik tersebut menjadi salah satu aspek yang dinilai relevan dengan tugas BGN yang berkaitan dengan kualitas pangan, gizi masyarakat, dan pembangunan sumber daya manusia. Di tengah besarnya tantangan stunting dan masalah gizi nasional, pendekatan berbasis sains menjadi salah satu faktor penting dalam pengambilan kebijakan.
Rekam Jejak Nanik S Deyang Sebelum Memimpin BGN
Sebelum terlibat dalam dinamika politik nasional, Nanik memulai perjalanan karier profesional sebagai jurnalis untuk Tabloid Bangkit. Karier Nanik di pemerintahan mulai menguat setelah aktif dalam tim pemenangan Prabowo Subianto pada Pilpres 2019. Ia tercatat sebagai Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno.
Setelah pemerintahan Prabowo terbentuk, Nanik dipercaya menjadi Wakil I BP Taskin yang bertugas membantu percepatan pengentasan kemiskinan nasional. Pada Juni 2025, ia juga memperoleh amanah sebagai Komisaris Independen PT Pertamina (Persero).
Kariernya kemudian berlanjut ke Badan Gizi Nasional. Pada September 2025, Presiden Prabowo melantik Nanik sebagai Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi. Posisi tersebut membuatnya terlibat langsung dalam evaluasi pelaksanaan MBG sebelum akhirnya dipercaya menduduki kursi Kepala BGN pada Juni 2026.
Sebagai kepala baru, Nanik menghadapi tantangan besar untuk memperbaiki tata kelola program MBG, memastikan kualitas makanan yang diterima masyarakat, sekaligus menjaga efektivitas penggunaan anggaran negara.
Baca juga: Breaking News! Prabowo Copot Kepala BGN Dadan Hindayana, Diganti Nanik Deyang
LHKPN Nanik S Deyang dan Tantangan Mengelola Anggaran MBG
Selain rekam jejak karier, laporan harta kekayaan Nanik juga menjadi perhatian publik. Berdasarkan data Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), total kekayaan Nanik mencapai sekitar Rp6,3 miliar.
Komposisi aset terbesar berasal dari kepemilikan tanah dan bangunan dengan nilai lebih dari Rp5 miliar. Selain itu, Nanik juga melaporkan kepemilikan kendaraan bermotor, harta bergerak lainnya, serta kas dan setara kas yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah.
Menariknya, dalam laporan tersebut tidak tercatat adanya utang. Dengan demikian, seluruh nilai kekayaan yang dilaporkan merupakan kekayaan bersih yang dimiliki Nanik.
Transparansi LHKPN menjadi salah satu aspek penting mengingat BGN mengelola program strategis nasional dengan anggaran ratusan triliun rupiah. Karena itu, kepemimpinan Nanik akan diuji tidak hanya dari sisi pencapaian target penerima manfaat, tetapi juga kemampuan menjaga akuntabilitas dan tata kelola keuangan negara.
Dengan latar belakang pendidikan sains, pengalaman di BP Taskin, serta keterlibatan langsung dalam manajemen BGN, Nanik S Deyang kini menghadapi tantangan besar untuk memastikan Program Makan Bergizi Gratis berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan mampu memberikan dampak nyata terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia. (*)
Editor: Yulian Saputra