Poin Penting
- Premi asuransi umum hingga Juni 2026 turun 0,5 persen menjadi Rp58,20 triliun, sementara klaim melonjak 29,2 persen menjadi Rp27,36 triliun
- Lini properti menjadi sumber tekanan terbesar, dengan premi turun 13,6 persen menjadi Rp15,51 triliun dan klaim melonjak 75,8 persen menjadi Rp5,78 triliun
- AAUI menilai perlambatan aktivitas usaha dan kehati-hatian masyarakat mengambil kredit turut menekan pertumbuhan industri.
Jakarta – Industri asuransi umum menghadapi tekanan pada paruh pertama 2026. Hingga Juni 2026, premi yang dihimpun tercatat Rp58,20 triliun, turun 0,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp58,50 triliun.
Di saat premi tertekan, klaim justru melonjak 29,2 persen menjadi Rp27,36 triliun dari Rp21,17 triliun.
Tekanan tersebut terutama terlihat pada lini properti dan asuransi kredit. Premi properti merosot 13,6 persen menjadi Rp15,51 triliun, sementara klaimnya justru melonjak 75,8 persen menjadi Rp5,78 triliun.
Pada asuransi kredit, premi masih tumbuh 9,3 persen menjadi Rp9,32 triliun, tetapi klaim meningkat jauh lebih tinggi, yakni 32,7 persen menjadi Rp9,28 triliun.
Baca juga: Asuransi Bintang Bongkar Dugaan Fraud Sistematis, Rp400 Juta Raib Tiap Bulan
Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Budi Herawan mengatakan, kondisi tersebut tidak terlepas dari tekanan pada tiga lini bisnis utama yang menjadi penopang premi industri, yakni properti, kendaraan bermotor, dan asuransi kredit.
“Jelas ya, indikator premi kita memang ada tiga line of business. Satu bisnis yaitu property, kedua kendaraan motor, dan ketiga asuransi kredit,” ujarnya dalam Konferensi Pers Kinerja Semester I 2026 di Jakarta, Jumat (4/9).
Pada lini properti, Budi menjelaskan persoalan datang dari melemahnya aktivitas dunia usaha dan investasi. Berkurangnya aktivitas sejumlah pabrik maupun investor asing membuat objek yang bisa diasuransikan ikut menyusut. Kondisi tersebut pada akhirnya membatasi pertumbuhan premi baru di sektor properti.
“Pabrik-pabrik atau investor asing yang keluar dari Indonesia. Ini sudah saya sampaikan, sehingga objek-objek yang diasuransikan otomatis berkurang,”ungkapnya.
Data hingga Juni 2026 memperlihatkan tekanan tersebut cukup dalam. Selain premi properti yang turun 13,6 persen, premi engineering juga terkontraksi 14,1 persen.
Di sisi klaim, engineering justru mencatat kenaikan 78,5 persen. Artinya, tekanan bukan hanya terjadi pada penciptaan bisnis baru, tetapi juga muncul dari meningkatnya beban klaim pada sejumlah lini komersial.
Sementara itu, kendaraan bermotor masih mencatat pertumbuhan premi 4,9 persen menjadi Rp9,86 triliun. Namun, Budi mengingatkan pertumbuhan penjualan kendaraan tidak serta-merta berarti pertumbuhan premi asuransi kendaraan secara menyeluruh.
Pasalnya, pertumbuhan pasar kendaraan saat ini banyak ditopang oleh kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
“Kita memang ada pertumbuhan di kendaraan bermotor, tapi tentunya itu lebih didominasi oleh kendaraan EV listrik. Sedangkan yang konvensional mengalami suatu stagnasi,” katanya.
Tekanan berikutnya datang dari asuransi kredit. Meskipun premi tumbuh 9,3 persen, klaim justru meningkat 32,7 persen. Dengan nilai klaim Rp9,28 triliun, selisih antara premi dan klaim pada lini ini semakin tipis.
Budi menilai kehati-hatian masyarakat dalam mengambil kredit konsumtif menjadi salah satu persoalan yang perlu dicermati.
“Untuk kredit konsumtif yang selama ini cukup tinggi dilontarkan ke masyarakat, nampaknya masyarakat juga pintar sekali. Mereka banyak sekarang tidak mengambil kredit konsumtif, lebih banyak menahan,” tuturnya.
Kondisi tersebut membuat industri asuransi umum berada dalam situasi yang cukup dilematis. Di satu sisi, perusahaan membutuhkan pertumbuhan objek pertanggungan baru untuk mengerek premi.
Di sisi lain, perlambatan ekonomi membuat dunia usaha dan masyarakat menahan ekspansi maupun pembiayaan. Pada saat bersamaan, klaim di sejumlah lini justru meningkat tajam.
Baca juga: AAJI Soroti Dampak New RBC terhadap Industri Asuransi Jiwa
“Jadi ini semua kayak chicken and egg,” ujar Budi.
Meski demikian, AAUI masih melihat ruang untuk perbaikan apabila aktivitas ekonomi kembali bergerak dan menciptakan objek pertanggungan baru. Budi mengatakan industri tetap perlu menjaga optimisme di tengah kondisi tersebut.
“Tapi kami di AAUI tetap masih berharap ke depannya, seperti selalu harus optimis,” pungkasnya. (*) Alfi Salima Puteri


