Poin Penting
- BWS mengandalkan modal kuat dan ekosistem bisnis untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan
- Per Maret 2026, BWS mencatat CAR 33,4 persen dan memperluas kolaborasi dengan berbagai mitra strategis
- Analis menilai kualitas pertumbuhan dan diversifikasi pendapatan kini lebih penting dibanding ekspansi agresif.
Jakarta – Di tengah persaingan industri perbankan yang semakin ketat, sejumlah bank berukuran lebih kecil mulai dituntut untuk “naik kelas”. Namun, para analis menilai, upaya naik kelas tidak cukup hanya dengan memperbesar modal.
Keberhasilan bank dalam bertumbuh secara berkelanjutan juga ditentukan oleh kualitas fundamental, pengelolaan risiko, serta kemampuan membangun ekosistem bisnis yang menghasilkan pertumbuhan sehat.
Salah satu bank yang mencoba strategi itu adalah Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (BWS). BWS dinilai berhasil menjadi salah satu bank yang tidak hanya memiliki struktur permodalan, tetapi juga secara konsisten membangun ekosistem bisnis melalui kolaborasi dengan berbagai mitra strategis guna memperluas sumber pendapatan sekaligus menjaga kualitas aset.
Baca juga: BI Catat Kredit Perbankan Tumbuh 12,67 Persen di Juni 2026
Per Maret 2026, BWS memiliki modal inti (Tier-1 Capital) sebesar Rp10,7 triliun dengan rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) atau Capital Adequacy Ratio (CAR) BWS tercatat mencapai 33,4 persen.
Posisi tersebut memberikan ruang yang memadai bagi bank untuk mengembangkan bisnis secara bertahap sekaligus menjaga fleksibilitas menghadapi dinamika industri.
BWS terus membangun ekosistem bisnis melalui berbagai kerja sama strategis yang diarahkan untuk memperkuat basis nasabah, memperbesar volume transaksi, dan menciptakan sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan.
Di segmen kredit, misalnya, BWS menjalin kolaborasi dengan Sinarmas Land dalam penyaluran kredit properti. Kerja sama ini membuka akses terhadap basis nasabah yang lebih luas sekaligus memperkuat kualitas penyaluran kredit melalui kemitraan dengan pengembang berskala besar.
Sementara di sisi transaction banking, BWS memperluas kolaborasi dengan berbagai perusahaan di sektor gaya hidup dan konsumsi, mulai dari XXI Cafe, McDonald’s, hingga yang terbaru bersama Grab.
Analis Panin Sekuritas, Sarkia Adelia, menilai strategi BWS menunjukkan bahwa penguatan fundamental tidak hanya tercermin dari besarnya modal, tetapi juga dari kemampuan membangun ekosistem bisnis yang mendukung pertumbuhan jangka panjang.
“Bank tidak selalu harus mengejar pertumbuhan yang cepat. Modal yang kuat juga menjadi prasyarat. Tetapi yang tidak kalah penting adalah membangun ekosistem bisnis yang mampu menghasilkan transaksi berulang, menjaga kualitas aset, dan menciptakan sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan. Fondasi seperti itu justru menjadi penopang pertumbuhan jangka panjang,” ujar Sarkia dalam keterangannya, Kamis (23/7)
Menurutnya, pasar kini semakin memperhatikan kualitas pertumbuhan dibandingkan sekadar pertumbuhan kredit yang tinggi. Investor cenderung memberikan apresiasi lebih kepada bank yang mampu menjaga keseimbangan antara ekspansi, kualitas aset, dan diversifikasi sumber pendapatan.
Dengan posisi permodalan yang solid, BWS memiliki fleksibilitas untuk menangkap berbagai peluang bisnis ketika kondisi ekonomi semakin kondusif.
Baca juga: BI Pastikan Likuiditas Perbankan Tetap Memadai, Ini Indikatornya
Di saat yang sama, pembangunan ekosistem transaksi memberikan peluang bagi bank untuk meningkatkan kontribusi pendapatan non bunga sehingga kinerja tidak hanya bergantung pada pertumbuhan kredit.
Strategi tersebut dinilai sejalan dengan arah industri perbankan yang kini semakin menitikberatkan kualitas pertumbuhan dibandingkan ekspansi yang agresif.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kombinasi antara permodalan yang kuat, kualitas aset yang sehat, serta ekosistem bisnis yang produktif menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing dan kepercayaan pasar. (*) DW


