Poin Penting
- Dampak ekonomi Lebaran melemah, ditandai perputaran uang nasional turun sekitar 12% dan kontribusi Lebaran 2025 terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi yang terendah dalam beberapa kuartal.
- Konsumsi masyarakat tertahan karena kelas menengah lebih berhati-hati dan mengutamakan precautionary saving di tengah ketidakpastian ekonomi, berdampak pada sektor otomotif dan perumahan.
- Lebaran 2026 diperkirakan masih lemah, meski ada potensi dorongan ekonomi dari meningkatnya aktivitas sosial seperti donasi dan bantuan kemanusiaan.
Jakarta – Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Wisnu Setiadi Nugroho menilai, dampak ekonomi pada momen Hari Raya Idulfitri dalam beberapa tahun terakhir, termasuk pada 2025 yang menjadi Lebaran pertama di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, tidak lagi sekuat periode sebelumnya.
Hal itu tecermin dari menurunnya perputaran uang dan melambatnya pertumbuhan ekonomi pasca-Lebaran.
Wisnu mencatat, pada Lebaran sebelumnya perputaran uang nasional terkontraksi sekitar 12 persen, sementara kontribusi Lebaran terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi yang terendah dalam beberapa kuartal terakhir.
“Dan kita tahu, perputaran uang turun 12 persen, lalu pertumbuhan ekonomi ketika pada Lebaran 2025 terendah sepanjang beberapa kuartal terakhir,” ujar Wisnu dalam diskusi Lapor Iklim bertema “Pasca Banjir Sumatera dan Jelang Ramadan 2026”, Selasa, 10 Februari 2026.
Baca juga: Bansos BPNT-PKH Februari 2026 Cair, Ini Besaran dan Cara Cek Penerima
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa momen Lebaran kini tidak lagi menjadi pendorong konsumsi yang signifikan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Baik itu perpindahan manusia, apapun konsumsi. Kita dengar curhat-curhat para penjual kue, penjual kue kering bahwa sampai lebaran pun masih ada. Mereka stoknya beda banget sama tahun-tahun sebelumnya,” bebernya.
Wisnu menjelaskan, fenomena tersebut berkaitan dengan perubahan perilaku kelas menengah yang kini cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang.
Masyarakat disebut semakin mengedepankan precautionary saving atau tabungan berjaga-jaga, seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan kekhawatiran terhadap arah kebijakan pemerintah.
Baca juga: Ditopang Kinerja Solid, BRIS Ungguli Saham Bank Lain
Wisnu mencontohkan, tingginya minat masyarakat membeli emas bukan semata untuk mencari keuntungan jangka pendek, melainkan sebagai aset yang dianggap lebih aman di tengah volatilitas nilai tukar rupiah dan pasar keuangan.
Kondisi ini berdampak pada penurunan konsumsi, termasuk pada sektor-sektor utama seperti otomotif dan perumahan.
“Tanya industri otomotif, tanya industri perumahan, mereka semua melambat. Semua kemudian susah nyari orang mau beli rumah, susah orang beli mobil kemarin ada IMS tidak sebesar-besar seperti sebelumnya,” ujarnya.
Atas kondisi tersebut, dirinya memperkirakan bahwa Lebaran 2026 masih akan menunjukkan pola serupa, bahkan berpotensi lebih lemah dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, Wisnu melihat potensi dorongan ekonomi dari meningkatnya aktivitas sosial masyarakat, seperti donasi dan bantuan kemanusiaan.
“Jadi ketika ada yang kesusahan, mereka berbondong-bondong untuk menyumbang. Nah itu mungkin salah satu dorongan ekonomi yang bisa kita andalkan. Ada sumbangan, masyarakatnya akhirnya kemudian bisa tumbuh ekonominya,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra









